Sekutip Aufklarung dalam Euforia AFF Cup U-19

Selasa, Oktober 01, 2013

Minggu malam, 29 September 2013, Timnas U-23 Indonesia melakoni laga final perebutan medali emas Islamic Solidarity Games di Jakabaring Palembang melawan Timnas Maroko. Begitu banyak komparasi terhampar di berbagai pembicaraan yang membandingkan prestasi yunior mereka, Timnas U-19 Indonesia dengan Timnas ISG 2013 tersebut.

Timnas U-19 dirasa mampu membasuh duka 22 tahun tanpa gelar Timnas Sepakbola Indonesia setelah menjuarai AFF Cup U-19 meskipun dalam rentang waktu 22 tahun tersebut, sebenarnya Timnas Indonesia pernah meraih beberapa trofi kejuaraan yang tidak terlalu bergengsi, seperti Merdeka Games. Meskipun ISG 2013 bukan menjadi target utama, tentu ada harapan Timnas U-23 mampu mengikuti keberhasilan Timnas U-19 dengan memperoleh medali emas pada ajang tersebut.

Di malam itu, Timnas U-23 gagal meraih medali emas setelah kebobolan 2 gol di akhir laga. Rahmad Darmawan terlalu cepat menginstruksikan para pemain menurunkan garis pertahanan jauh ke belakang dan memperagakan umpan-umpan lambung. Akibatnya, pertahanan Indonesia kebobolan 2 gol setelah dicecar luar biasa oleh para pemain Maroko. Setelah tertinggal, barulah Indonesia bermain lebih terbuka dengan dimasukkannya Okto dan Agung Suprayogi. Namun, usaha itu tak mengubah kedudukan. Indonesia kalah 1-2 dari Maroko.

Ada sisi positif dari kegagalan Timnas U-23 tersebut. Kecuali di posisi striker, hampir seluruh lini di skuad utama diisi oleh pemain-pemain yang telah mendapat tempat di klub masing-masing. Sementara itu, di posisi striker, Syamsir Alam, Sunarto, maupun Agung Suprayogi, tak mampu memenuhi ekspektasi untuk setidaknya mencetak gol atau memberi ancaman ke gawang lawan.

Striker-striker tersebut bukannya tak punya kemampuan, hanya saja mereka belum punya jam terbang yang cukup karena sering menjadi cadangan ketika bermain di klub masing-masing. Sunarto memang beberapa kali tampil menawan di Arema Coronus. Tetapi ia masih kalah bersaing dengan striker-striker kenamaan yang dimiliki Arema, seperti Christian Gonzales dan Greg Nwokolo. Syamsir Alam yang bermain di DC United, bahkan hampir tak pernah dimainkan oleh klubnya di kompetisi Major League Soccer (MLS) Amerika Serikat. Pendek kata, Timnas U-23 berhasil mendapatkan pemain-pemain yang lumayan dari kompetisi-kompetisi yang ada, meskipun di lini penyerangan Timnas belum mendapat pasokan striker yang tajam.

Tak ada salahnya jika ada sebagian pihak yang menolak optimis secara berlebihan terhadap masa depan Timnas U-19. Berbeda dengan Timnas U-23 yang memperoleh source pemain-pemain dari kompetisi ISL, IPL, atau kompetisi luar negeri, Timnas U-19 hanya merekrut pemain-pemain yang kebanyakan non-profesional. Kunci kesuksesan Timnas U-19 di ajang AFF Cup beberapa waktu lalu lebih dominan karena usaha keras pelatih Indra Syafri yang susah payah mencari bibit-bibit pemain dari pelosok-pelosok negeri.

Selain itu, Indra Syafri juga melakukan pelatnas jangka panjang untuk membina tim ini. Pelatnas jangka panjang ini dilakukan Indra Syafri karena tidak adanya kompetisi kelompok umur sebagai wadah para pemain asuhannya untuk mengembangkan permainan.

Meskipun para pemain kelompok umur U-19 hasil talent-scouting tersebut berhasil memperoleh gelar juara AFF Cup, perlu adanya pembenahan di masa mendatang. Ketiadaan kompetisi kelompok umur di Indonesia menjadi catatan merah. Tanpa adanya kompetisi kelompok umur, tak ada wadah bagi para pemain muda untuk mengasah bakatnya.

Dengan adanya kompetisi kelompok umur, pelatih Timnas akan mendapatkan sumber pemain yang melimpah dan secara tidak langsung kualitas Timnas akan meningkat. Karena sejatinya, timnas yang handal --dari negara manapun-- adalah cerminan dari kompetisi domestik yang baik.

You Might Also Like

0 komentar