Leonardo DiCaprio, Vicky, Purka, dan Toni Blank

Sabtu, September 14, 2013


Andrew Laeddis (Leonardo DiCaprio) adalah pengidap schizophrenia --ketidak warasan yang ditandai dengan kehilangan kontak pada kenyataan, halusinasi, pikiran abnormal, dan terganggunya fungsi sosial-- paling cerdas dari semua pengidap sindrom tersebut di dunia nyata maupun dunia fiksi yang saya tahu. Mungkin anda pengidola fanatik Leo DiCaprio sehingga menganggap di film Shutter Island, Andrew Laeddis atau Edward Daniels dijebak dalam sebuah konspirasi oleh Dr. John Cawley (Ben Kingsley) dan segenap staff rumah sakit Ashecliffe.

Saya tak menyalahkan anda. Tapi bagi saya, adegan di akhir cerita yang menunjukkan lenyapnya pistol yang Andrew Laeddis todongkan ke arah Dr. John Cawley, menunjukkan Andrew Laeddis sedang berhalusinasi. Sesuatu yang hanya ada pada indera dan pikiran pengidap schizophrenia.

Tempat tinggal saya dekat dengan sebuah keluarga yang salah satu anggota keluarga tersebut mengalami ganguan kejiwaan. Pria malang yang sudah saya kenal sejak kecil itu bernama Purka (bukan nama sebenarnya). Banyak versi mengenai cerita dibalik kegilaannya. Ada yang mengatakan ia gila karena hasratnya untuk memiliki motor tidak dipenuhi oleh orangtuanya, sehingga Purka kerap terlihat berjalan kaki keluar rumah mengenakan helm. Ada juga cerita yang mengatakan dahulu kepalanya terbentur karena terjatuh saat mengikuti sebuah lomba lari. Isu tentang penyebab kegilaannya yang paling tragis adalah karena cintanya ditolak oleh seorang gadis.

Purka kerap berbicara menggunakan bahasa Indonesia baku dan 'sok' intelek. Sesuatu yang mengingatkan saya pada sosok Toni Blank, salah satu penghuni panti sosial di Yogyakarta yang juga mengidap schizophrenia. Kedua orang ini memiliki kemiripan. Walau tidak memiliki perkataan-perkataan 'sehebat' Toni Blank, saya mulai berpikir, jangan-jangan Purka juga mengidap szhizophrenia karena ia juga sering berbicara 'sok' intelek.

Dalam 2 minggu terakhir, media sosial diisi dengan celaan pada seorang lelaki yang gagal menikah karena diketahui bermasalah dengan beberapa wanita. Yang terkenal di media sosial bukan prahara asmaranya dengan wanita-wanita tersebut, melainkan usaha retorikanya yang gagal dalam sebuah wawancara. Alih-alih berhasil menyusun kata-kata bak kaum intelek, kata-katanya justru melinglungkan. Mungkin ia juga terkena gejala schizophrenia.

Cermatilah! Orang-orang pengidap schizophrenia memiliki ciri yang sama: berbicara seperti orang cerdas atau seolah-olah seperti orang cerdas. Bahkan, sebagian pengidap schizophrenia benar-benar cerdas, seperi tokoh Andrew Laeddis di film Shutter Island atau mungkin Toni Blank yang terkenal itu.

Dengan kecerdasannya, Andrew Laeddis (Leo Dicaprio) dibiarkan berfantasi dengan halusinasinya agar dapat disembuhkan. Sementara itu, Toni Blank, hasil interview dengannya dijadikan film dokumenter, bahkan. Mereka di-manusia-normal-kan.

Orang yang memiliki gangguan jiwa, bagaimanapun bentuknya, harusnya diperlakukan dengan baik sebagaimana orang biasa. Ada pula yang mengatakan, orang gila harusnya diperlakukan seperti orang waras agar sembuh. Waktu saya kecil, Purka yang saya ceritakan di atas, juga diperlakukan bak orang biasa. Bahkan, kadang saya dan anak-anak lain bermain bola dengannya waktu kecil. Pengidap gangguan kejiwaan punya hak asasi sebagai manusia. Tetapi, membiarkan seorang pesakitan gila --yang mungkin juga pengidap schizophrenia-- mengajak beberapa wanita masuk dalam halusinasinya, merupakan tindakan yang kurang bijak tentunya.

[tulisan ini dibuat setelah membaca sebuah tulisan di ndorokakung.com]

You Might Also Like

0 komentar