Dasar IPK! #PrayForIPK #SaveIPK

Minggu, Agustus 04, 2013

Raju Rastolgi adalah mahasiswa Imperial College of Engineering (ICE) paling beruntung dalam job fair pra-wisuda tahunan angkatannya. Ia berhasil memperoleh pekerjaan dengan bermodal IPK pas-pasan. Keberhasilannya memperoleh pekerjaan itu membuat Dr. Viru "Virus" Sahastrabuddhe harus rela mencukur habis kumisnya. Sebelumnya, Virus melakukan taruhan dengan Rancho, teman baik Raju. Virus berjanji akan mencukur habis kumisnya jika Raju berhasil memperoleh pekerjaan pada job fair pra-wisuda. 

Semua orang memprediksi Raju yang memiliki IPK pas-pasan itu akan gagal memperoleh pekerjaan. Nyatanya, Raju lolos dari lubang jarum. Secara dramatis ia memperoleh satu tempat di perusahaan yang ia inginkan.

Secuplik kisah dari film 3 Idiots tersebut menggambarkan IPK bukan segala-galanya untuk melamar pekerjaan. Tentu ada aspek-aspek lain yang akan dipertimbangkan. Tapi kisah Raju Rastolgi tersebut tentu tidak serta merta akan mudah didapati di kehidupan nyata. Lagi pula, pada film yang disutradarai Rajkumar Hirani tersebut banyak drama yang disisipkan sebagai penguat konflik film.

Jika menonton film 3 Idiots, sebelum menyaksikan secuplik drama mengenai Raju dan cerita kelolosannya pada job fair, kita akan disuguhi kisah mengenai Joy Lobo yang sedikit memaksa kita menahan air mata. Joy Lobo diceritakan sebagai mahasiswa calon insinyur pertama di desanya. Sayangnya, karena berbagai masalah keluarga yang menimpanya, proyek tugas akhirnya terbengkalai. Rancangan tricopter yang ia buat ditolak mentah-mentah oleh pembimbingnya (Virru Sastrabudhe) dan ia terancam gagal lulus tepat waktu. Pada akhirnya, Joy Lobo memilih mengakhiri hidupnya karena kegagalannya menyelesaikan proyek tugas akhir tersebut.

Yang aneh dari Joy Lobo adalah jika ia sangat ingin lulus tepat waktu, kenapa ia memilih mengambil TA di bidang kontrol dengan membuat tricopter? Padahal semua mahasiswa mesin di seluruh dunia tahu, bidang kontrol adalah salah satu bidang KP atau TA tersulit di jurusan teknik mesin. Apalagi pada jaman Joy Lobo di film 3 Idiots tersebut (sekitar tahun 1990-an) teknologi komputer yang ada tentu belum secanggih jaman sekarang. Ia tentu akan kesusahan mencari literatur dan software-software pembantu pengerjaan TA. Tapi sekali lagi itu semua hanya film. Sah-sah saja dibuat demikian. Sama seperti kisah Raju dan IPK-nya. Sah-sah saja Raju lolos dalam job fair pra-wisuda yang dramatis tersebut.

Kamis tanggal 1 Agustus lalu saya mendapatkan rilis nilai-nilai akhir saya semester 6. Hasilnya tidak bagus, tapi juga tidak jelek. Dari 8 mata kuliah yang saya ambil plus 1 mata kuliah KKL, saya mendapat 3 nilai A, 2 nilai E, dan sisanya mendapat nilai C.

Tidak seperti Raju, saya tidak terlalu risau dengan IPK saya saat ini (yang bernilai 2,8). Saya menduga, prestasi akademik Raju dianggap jelek karena ia kuliah di institut terfavorit. Ya, kita letakkan teori perbandingan disini. Mungkin Raju tidak bodoh-bodoh amat, tapi karena ia kuliah diantara orang-orang yang lebih pintar, ia terlihat bodoh.

Selain itu, di film 3 Idiots tersebut lulus lebih dari empat tahun adalah sebuah aib. Tentu berbeda dengan di Undip, khususnya di Teknik Mesin Undip. Lulus 4,5 tahun juga masih sangat bagus. Dan saya kuliah disini.

Andai saya kuliah di ITB yang notabene raw material-nya lebih baik, mungkin saya akan ketakutan dan merasa inferior jika tidak lulus tepat waktu. Namun, segala kesemenjanaan dan keinferioran teman-teman kuliah saya di Teknik Mesin Undip inilah yang secara tidak langsung justru membuat saya tidak terlalu risau dengan IPK (walaupun tentu saya juga tidak senang). Saya juga masih bisa menambah 1-2 semester tambahan untuk memperbaiki IPK saya sebelum lulus (meskipun saya juga ingin lulus tepat waktu). Saya juga bisa belajar menerima suatu keadaan yang tegas dan disiplin dengan menerima nilai dari dosen yang apa adanya tanpa ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi karena ada teman-teman saya yang senasib juga (walaupun saya ingin nilai yang tinggi juga sebenarnya). Open recruitment disini juga kebanyakan dilaksanakan setelah lulus, tidak saat pra-wisuda.

Saya kira itu semua terjadi karena faktor komparasi yang mau tak mau terjadi begitu saja. Mungkin semacam sugesti alam bawah sadar agar tidak terlalu risau dengan IPK. Apapun itu, berjuanglah untuk IPK! Jangan terlalu banyak menengok ke atas, tengoklah ke bawah ke depan. #PrayForIPK #SaveIPK

You Might Also Like

9 komentar

  1. Wah, suka 3 Idiots? Ini film yang bagus banget dan buka mata tentang orientasi belajar kita. Salam kenal,

    Dasrizal
    http://dasrizal.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. @Dasrizal Salam kenal juga, emang bagus sih. :))

    @Morina Rhe Makasih. :))

    BalasHapus
  3. kalo ngomongin masalah IPK itu gak ada habisnya ya, bayangin deh yg semester awalnya aman2 aja krna IPK gede tiba-tiba makin naik tingkat IPK makin turun. apalagi kalo ada temen yg dapet IPK 4, yg tadinya ngerasa bangga dapet IPK lebih dari 3 mendadak jadi orang paling bego :/ #pukpukmahasiswa

    BalasHapus
  4. saya IPK juga kecil. tapi enak ya kalau di universitas bisa ngulang buat mata kuliah yang nilainya kecil

    saya di politeknik harus nerima apa adanya. jelek ya jelek ~~

    BalasHapus
  5. @Rida Fauziah: Itu namanya komparasi :)) kalo banyak temen yg IPK-nya bagus, kita jadi gimana githu..

    @Bayu Yang penting pas kerja bisa bagus (gaji+kenyamanan) :))

    BalasHapus
  6. wow teknik mesin!

    segitu susahnya kuliah ya,padahal gue kadang msh ngeluh di kelas 3 SMA ini.

    nice story! to motivated the highschool kid like me!

    BalasHapus
  7. kalau abis liat nilai atau IP jelek terus nonton 3 idiots jadi semangat lagi. bener ga bang mail?? ahaha

    BalasHapus
  8. gak, malah pengin nonton film yg lain.. :))

    BalasHapus

Daftar Bacaan

Like us on Facebook