Nostalgia Hikayat-hikayat Lama dan Post-Modernisme

Selasa, Agustus 27, 2013

Sebelum kita mengamini para gadis yang terjerat dalam ajang-ajang kecantikan itu sebagai wanita cantik, Ken Arok terlebih dahulu jatuh cinta pada Ken Dedes dalam wujud yang jelek, atau cantik (hanya) dalam pandangan Ken Arok dan orang-orang di jamannya.

"Dahulu Ken Arok jatuh cinta pada Ken Dedes karena tak sengaja melihat betis Ken Dedes yang pendek dan besar," kata seorang dosen.


"Kalau orang Indonesia (jaman Ken Arok, red) yang menemukan internet, wanita yang dianggap cantik bukan seperti wanita-wanita cantik seperti pada jaman sekarang ini. Wanita akan dianggap cantik jika seperti Ken Dedes --memiliki betis pendek dan besar, tidak seperti sekarang, memiliki betis yang ramping," kelakarnya.

Arnold J. Toynbee, penulis Study of History (1947) yang mengkritisi  modernisme pada bidang sejarah - quotesgram.com
Apa lacur, kita sudah terbiasa dengan hawa globalisasi dan memaklumi kejanggalan, keanehan, dan ketabuan sebagai sesuatu yang wajar dengan satu syarat: dilakukan oleh kebanyak orang, salah satunya masalah berpenampilan. Alih-alih sebagai tindakan post-modernisme, berusaha merubah imej jutaan orang dengan menyuguhkan cerita-cerita lama atau berpenampilan dengan corak lama justru dianggap sebagai tindakan abnormal, terkecuali jika dilakukan di waktu-waktu tertentu --semacam karnaval atau walimahan aristokrat.

Teknologi informasi adalah katalis terbaik --setidaknya hingga saat ini-- untuk mempercepat asimilasi. Asimilasi, yang dalam buku-buku sejarah SMP digambarkan sebagai peleburan dua budaya berbeda menjadi satu dengan kontribusi masing-masing budaya yang cukup berimbang, tak lagi seideal dulu.

Jika asimilasi dalam buku-buku sejarah SMP disiratkan sebagai suatu ketidaksengajaan meniru dan mengadopsi kebudayaan kaum pendatang atau kaum yang didatangi, asimilasi pada jaman sekarang lebih bersifat vertikal dan agaknya disengaja. Bahkan, beberapa kaum konservatif menyebutnya sebagai konspirasi atau bentuk penjajahan baru. Bukan saling meniru, tetapi lebih terpolar, sebatas meniru atau ditiru. Yang ditiru tentunya yang mendominasi arus informasi, sebagai pengawal dan pusat mayoritas. (Oleh karenanya, mungkin kata "asimilasi" tidak tepat saya gunakan disini).

Tidak berlebihan rasanya jika saya menganggap sistem pemerintahan demokrasi begitu dipuja dan diinginkan banyak negara bukan karena sistem tersebut perfek, tetapi karena negara-negara terawal penggunanya terlihat sukses dan superior dengan sistem itu.

Globalisasi dengan teknologi informasi sebagai moncongnya menyederhanakan proses "trial and error" atau "learn, think, and do" menjadi "monkey see, monkey do". Ketimpalan kisah usaha Pambayun untuk merengkuh kasih Ki Ageng Mangir dengan berlatih dan memainkan ledhek berbulan-bulan berbanding kasus-kasus korban  asmara via Facebook yang berlalu-lalang di media, menyiratkan kita telah memasuki sebuah era baru. Sebuah era yang sangat terbuka dengan masyarakat yang rambang.

Tentu saja poinnya bukan seberapa cepat perubahan itu terjadi, tetapi apakah asimilasi --atau sejenisnya-- itu tadi positif, terutama bagi obyek yang menerima perubahan dengan cara taklid buta yang keji. Meskipun tidak semua budaya yang kita miliki sebaiknya terus-terusan eksis, ada masa beberapa budaya beserta nilai-nilaiya mengatur kita, orang-orang timur, dengan baik. Bebal juga rasanya mengharap lakon "Ki Ageng Mangir" wara-wiri di pertunjukan-pertunjukan teater bangsa barat dengan --mungkin-- modifikasi judul "Ki Ageng Mangir: Even Spy Girl Has Love" seterkenal karya Shakespeare. Tetapi, mengharap norma-norma, dan kearifan-kearifan lokal orang timur tetap terjaga adalah semangat yang positif tentunya.

You Might Also Like

1 komentar

  1. I have fun with, lead to I discovered exactly what I was taking a look for.
    You have ended my 4 day long hunt! God Bless you man.
    Have a nice day. Bye

    My blog senukeXCr vps

    BalasHapus