Moga Bunda Disayang Allah, Sebuah Film yang Rumpang

Minggu, Agustus 18, 2013

Ada tiga tahapan sederhana yang lumrah dilalui seorang tokoh utama dalam cerita-cerita from zero to hero. Pertama, menjadi orang biasa atau bahkan pesakitan tapi berbakat. Kedua, berusaha mengejar mimpi-mimpi, menghadapi segala rintangan dan cobaan yang menerpa dengan usaha, keistiqomahan, dan ketawakalan. Ketiga, mencapai kesuksesan sebagai buah usaha tanpa kenal lelah. Namun, Moga Bunda Disayang Allah agaknya mereduksi tahapan kedua menjadi rumpang.

picture taken from this
Film Moga Bunda Disayang Allah (selanjutnya ditulis MBDA) menceritakan seseorang pesakitan bernama Karang (Fedi Nuril) yang diminta melatih seorang anak berkebutuhan khusus bernama Melati (Chnatika Zahra). Melati diceritakan sebagai anak kecil yang tuli, bisu, dan buta karena mengalami benturan di kepalanya dalam sebuah perjalanan wisata bersama keluarganya saat masih kecil. Karang sendiri, sebelum psikisnya terguncang dan menjadi pesakitan karena sebuah kecelakaan kapal yang menewaskan 18 orang anak didiknya, merupakan seseorang yang dikenal dekat dengan anak-anak.

Dengan segala proses yang tidak biasa --bahkan menjurus tak manusiawi, Karang berhasil menyembuhkan Melati. Bahkan, Karang yang seorang pesakitan itu pun juga sembuh dan menemukan hidupnya kembali, termasuk menyemikan cintanya kembali bersama kekasihnya Kinarsih (Shendy Aulia).

Pada akhirnya, MBDA bukanlah film from zero to hero yang sempurna. Alih-alih menceritakan manusia yang menjalani proses secara maksimal untuk menjadi sukses, kuasa dan keajaiban Tuhan lebih dominan dalam membentuk konklusi film.

Diplot sebagai tokoh utama, pengenalan tokoh Karang pun sangat minim. Selain dikenal pernah mendirikan beberapa taman bacaan anak, pernah dekat dengan anak-anak, dan pernah menyembuhkan seorang anak cacat, Karang adalah orang yang terlalu biasa untuk diamanahi tugas berat menyembuhkan Melati yang punya masalah begitu kompleks. Bisikan dan feeling Bunda HK (Alya Rohali), ibu Melati, yang meyakini bahwa Karang adalah keajaiban yang dikirim Tuhan, sama sekali tidak cukup untuk meyakinkan penonton bahwa Karang adalah tokoh protagonis yang 'pantas'.

Di film luar negeri, semisal Taare Zameen Par, kita bisa melihat bagaimana Aamir Khan yang berperan sebagai Ram Shankr Nikumbh menjadi tokoh penyelamat bagi seorang anak pengidap disleksia. Meskipun ia begitu diremehkan dengan metode yang ia gunakan untuk mendidik anak-anak, tapi kita tahu, Ram Shankr Nikumbh adalah seorang berpendidikan yang satu langkah lebih maju dari orang-orang yang mencercanya. Atau di film lain dengan genre yang berbeda, semisal sekuel Rambo, kita bisa melihat bagaimana Sylvester Stallone selalu menjadi pahlawan di akhir cerita walaupun di awal-awal diremehkan karena ia hanyalah veteran perang biasa yang menjalani hidup sebagai tukang batu di kuil, petarung tradisional, atau pemburu ular. Tapi, penonton tahu, Rambo adalah prajurit terbaik.

Barangkali, MBDA ingin mengangkat Karang sebagai tokoh anti-hero, tokoh biasa yang akhirnya menjadi pahlawan dengan menyembuhkan Melati. Andai saja pembuat film sedikit belajar dari film-film di atas, MBDA akan menjadi film yang lebih layak tonton. Namun, sekali lagi, tokoh Karang terlalu didewakan tanpa pencitraan yang cukup. Sekalipun kuasa Tuhan yang ingin ditonjolkan dalam film, penggambaran tokoh protagonis utama yang tak maksimal tentu membuat penonton tidak nyaman menyaksikan film MBDA.

Selain penggambaran tokoh utama yang tak maksimal, alur yang terlalu datar menjadikan film ini sedikit membosankan. Andai saja jalan cerita dimulai dari Karang yang berusaha mendidik melati, lalu flash-back ke belakang dan menguliti masa lalu Karang yang pernah hebat sampai tragedi kapal tenggelam, mungkin film ini akan menjadi lebih menarik, sebagaimana penonton diberitahu masa lalu Melati yang pernah ceria dengan flash-back ke kejadian masa kecilnya.

Selain itu juga terdapat ketidakdetailan pada beberapa adegan yang meninggalkan cacat pada MBDA. Pada kejadian tenggelamnya kapal, tidak terlihat peran para awak kapal untuk menyelamatkan para penumpang. Juga tidak jelas apakah kapal tersebut kapal militer, kapal penumpang biasa, atau kapal pribadi karena jumlah awak kapal begitu sedikit --hanya 3 orang jika saya tidak salah melihatnya. Tidak dijelaskan pula mengapa Karang dapat selamat sementara 18 anak yang bersamanya mati tenggelam, padahal sama-sama menggunakan pelampung.

Pada adegan Melati yang menggigit jari dokternya hingga putus juga terdapat keanehan yang menggelikan. Jari dokter yang putus hanya dibalut dengan kain kasa dan diobati dengan Betadine. Padahal, orang yang jarinya putus seperti itu harusnya langsung dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa dan dilakukan operasi penyambungan kembali jika memungkinkan untuk memulihkan kualitas hidupnya.

Jika berharap MBDA dimasukkan dalam daftar film religi, tentu hal itu merupakan ke-absurd-an semata. Pasalnya, tak ada ritual pendekatan diri pada Tuhan yang lazim dilakukan tokoh-tokoh dalam film religi seperti bersimpuh membaca doa dengan tetesan air mata atau rajin beribadah setiap saat di kala kesengsaraan melanda. Pencantuman kata Allah pada judul film tentu tidak cukup menjadikan film ini sebagai film religi. Narasi-narasi di akhir cerita yang menegaskan kebesaran Tuhan juga sama sekali tidak cukup, walau sejujurnya narasi-narasi di akhir cerita tersebut sedikit menolong keseluruhan film dengan memberikan konklusi bahwa kehendak Tuhan menjadikan segalanya ada.

Menilik pada nilai-nilai ekstrinsik, tentu tidak menjadi pelajaran yang baik usaha keras mengobati seseorang berkebutuhan khusus tanpa didasari ilmu medis dan ketawakalan yang cukup, dan hanya berdasar feeling semata.

Di luar kekurangan demi kekurangan MBDA, tentu kita perlu mengapresiasi keberanian produser film yang mau merogoh gocek untuk membiayai adegan seperti kapal tenggelam --meskipun menurut informasi sebagian adegan kapal tenggelam hanya diambil di Kolam Ombak Ancol-- dan bus tenggelam yang cukup rapi, serta sedikit mampu memacu adrenaline penonton.

Pembuat film juga berkeinginan membuat setting yang tak biasa dengan pemandangan pantai, laut, dan rumah bergaya barat dengan meja makan panjang dan pembantu-pembantu yang berseragam. Sayangnya ada beberap setting film yang tak perlu. Jangan heran jika tiba-tiba lokasi Museum Fatahillah muncul 2 kali dalam film tanpa ada adegan yang cukup.

Selain itu yang patut diapresiasi adalah peran Chnatika Zahra sebagai Melati yang berkebutuhan khusus, yang terus-menerus menjadi 'liar' karena kehilangan fungsi beberapa indera sejak kecil. Ia cukup berhasil membuat penonton iba. Tentu peran seperti ini tidak mudah. Ia lebih berkontribusi memberikan rasa pada cerita dan berakting lebih baik ketimbang Shendy Aulia --mungkin karena peran Shendy Aulia yang minim.

Film ini diadaptasi dari novel best seller Tere Liye dengan judul yang sama. Namun, sumber cerita film yang begitu bagus --termasuk dari novel best seller sekalipun-- tidak serta-merta menjadikan film tersebut menjadi film yang bagus pula. Sebuah pelajaran berharga untuk berhati-hati mengikuti jejak film Laskar Pelangi atau film-film lain yang diambil dari novel-novel best seller tentunya.

You Might Also Like

5 komentar

  1. Kayaknya memang tidak begitu spesial.

    BalasHapus
  2. saya suka dengan novel Tere Liye. Oh iya, novel MBDA ini di ilhami dr kisah nyata Hellen Keller ya. Cerita ttg Hellen Keller ini sudah banyak mulai dari novel sampai filmnya pun ada yg versi Hollywood dan Bollywood :D
    film yg di angkat dr novel itu ga ada yg lebih greget dari novelnya~ mungkin karena membaca beda dengan melihat~

    BalasHapus
  3. Waah jadi banyak tau tentang ceritanya..
    Gue sendiri dari judulnya aja udah enggak terlalu tertarik sih..

    Ini reviewnya keren, detai banget :)

    BalasHapus
  4. Film ini tidak begitu spesial menurut saya,, saya tidak mengikuti novel sih, tapi sepertinya interpretasi pembaca novel pada beda yaa sama waktu nonton film..

    BalasHapus
  5. jadi penasaran pengen nonton filmnya.
    kalo film yang diangkat dari novel sepertinya lebih ke cara si sutradara dalam menggambarkan isi cerita ke film, hmm

    BalasHapus