Bagaimana Kita Menyikapi FPI?

Kamis, Juli 25, 2013

FPI yang dibentuk 17 Agustus 1998 lalu ini sudah lama jadi pembicaraan, sudah lama menjadi kontroversi.

Ada yang bilang dulu FPI dibentuk secara resmi dan sistematis karena alasan politis, sebagai alat untuk mengendalikan massa. Untuk ‘membantu’ peran polisi. Jadi bukan lahir karena suatu ideologi tertentu.

Ada juga yang bilang FPI selama ini mekalukan aksi-aksinya memberantas maksiat dan kemungkaran karena ada tendensi-tendensi tertentu (karena alasan uang, pengalih isu, dll).

Saya sendiri tidak tahu kebenarannya dan tidak ingin men-judge, karena tidak tahu benar atau salah. Silakan cari sendiri informasi mengenai hal tersebut.

Yang ingin saya sampaikan adalah:

Poin pertama: jika memang benar FPI melakukan aksi-aksinya selama ini murni karena alasan amar ma’ruf nahi munkar (baca: menyerukan kepada kebaikan dan mencegah umat dari keburukan), maka yang mereka lakukan selama tidak tepat. Kenapa? Silakan lanjutkan membaca.

Ada hadits tentang lemah lembut dalam dakwah yang berbunyi: “Barangsiapa di antara kalian melihat satu kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya, kalau tidak mampu dengan lisannya, kalau tidak mampu dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim Kitabul Iman 2/27 no 49).

Maksud hadits ini:

Maksud “merubahnya dengan tangannya” dalam hadits ini adalah dengan kewenangan atau kekuasaannya. Jadi kalau kita adalah pihak yang berwenang (polisi atau pemerintah) kita wajib menindak tegas kemungkaran tersebut. Tapi jika kita tidak punya wewenang (orang sipil biasa) maka tidak berhak, kita cukup melapor pada pihak yang berwenang saja.

“Dengan lisannya” maksudnya mencegah kemungkaran dengan memberikan nasihat, jika memungkinkan.

“Dengan hatinya” maksudnya: hati kita wajib menolak kemaksiatan tersebut, menolak dengan hati.

Jadi jika ada kemaksiatan, kita melapor ke pihak berwajib, menasehati jika bisa, lalu yang terakhir menolak dengan hati.

Bagaimana jika kita sudah melapor polisi, tetapi tidak ada tindakan dari pihak kepolisian? Kita cukup berdoa. Karena kita tidak berhak melakukan sweeping dan lain sebagainya. Dan terus upayakan melapor pada polisi, kalo polsek ngga bisa, lapor ke polres, polda, atau SMS SBY ke 9949. Atau kirim surat ke lurah, camat, bupati, dll.

(sumber: tausiyyah Ust. Afif As-Sidawi)

Poin kedua, jika selama ini FPI melakukan aksi-aksinya karena ada tendensi-tendensi tertentu (karena ada alasan politis, karena uang, atau motif-motif lainnya), berarti poin pertama tadi tidak dapat digunakan sebagai hujjah (alasan atau dasar) untuk memperingatkan mereka.

Karena berarti sebenarnya mereka tidak ingin menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, tapi mereka melakukan sweeping dan lain sebagainya karena tendensi uang atau alasan politik, dan sebagainya. Itu jika memang benar ada tendensi tertentu di balik aksi-aksi mereka selama ini.

Jika seperti itu, kita nasehati orang-orang di sekitar kita agar berhati-hati terhadap hal yang demikian dan tidak mudah terpancing isu-isu tertentu.

Apakah FPI Sebaiknya dibubarkan atau tidak?
Dari hasil baca-baca berbagai sumber, jika membubarkan suatu ormas, berarti pemerintah menyalahi konstitusi karena setiap warga negara memiliki hak untuk berserikat dan berkumpul. (bisa dibaca disini).

Jadi yang harus dilakukan,

1. Jika FPI memang sudah mengikuti sistem yang benar di dasar-dasar atau AD/ART organisasinya (tidak seperti PKI yang sudah dilarang), maka FPI berhak tetap ada.

2. Di tingkat bawah, jika ada anggota FPI yang melakukan pelanggaran (semisal sweeping) secara berkelompok dengan menggunakan nama/ embel-embel FPI, maka yang melakukan pelanggaran tersebut wajib dihukum oleh pihak kepolisian. Dan karena mereka melakukannya atas nama FPI, maka pimpinan FPI di daerah tersebut atau di atasnya diminta untuk menghimbau kepada anggota-anggotanya agar tidak melakukan pelanggaran (sweeping) lagi. Cukup seperti itu.

Saya sendiri mencoba baca-baca di situs resmi FPI (fpi.or.id) dan tidak menemukan secara pasti sebenarnya FPI menghimbau anggotanya untuk melakukan sweeping atau tidak. Seperti berita di situs resmi fpi berjudul Seharusnya Sweeping Tanggung Jawab Aparat!”.

Di berita tersebut ketika Munarman (jubir FPI) ditanya tentang maraknya aksi sweeping tempat maksiat di bulan suci Ramadhan yang dilakukan oleh sejumlah ormas di berbagai tempat, ia berkata, “Ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat, betapa moralitas masih dijunjung tinggi, sehingga kemaksiatan dianggap sebagai hal yang buruk, kemungkaran dan bentuk kebatilan yang harus diperangi.”

Ini jawaban yang agak klise, karena ia tidak mengatakan sweeping itu benar atau salah. Cuma mengatakan kalau masyarakat melakukan sweeping berarti masyarakat sudah sadar. How?

3. Kalau ada anggota FPI yang melakukan sweeping atau sejenisnya sendirian (karena alasan amar ma’ruf nahi munkar tadi), maka ini berarti murni tindakan individu. FPI tidak bertanggung jawab.

Terakhir, FPI itu adalah orang biasa seperti kita yang punya hak dan kewajiban sebagai warga negara dan sebagai makhluk Tuhan. Kalau mereka berbuat baik, ya kita dukung.

Jika memeraka berbuat kesalahan, kita laporkan ke pihak yang berwajib, syukur-syukur kita ingatkan. Jangan mudah terpancing terhadap pemberitaan media, dan tetap adem.

Kalau media sudah berhasil menggiring opini publik, justru ada pihak-pihak tertentu yang diuntungkan, sementara kita cuma ribut sendiri. Lebih baik belajar, tanya pada yang tahu (i.e ke ustadz-ustadz kalau dari sisi agama atau ke polisi kalau dari sisi hukum).

Sekian, semoga tetap adem. Terimakasih..

You Might Also Like

6 komentar

  1. ada tiga poin yang mendasari aksi kekerasan FPI ini:

    1. banyak yang tidak sadar diri
    2. banyak yang hilang kepercayaan
    3. banyak yang tidak sabaran

    BalasHapus
  2. Di tempat saya, tanpa perlu ada ormas2 seperti itu kami sudah punya kesadaran sendiri jika ada suatu pelanggaran. Tinggal lapor aparat setempat, atau memang langsung menegur. Kalo mau sweeping, kan ga perlu heboh. Sampaikan baik2, lalu kalo masih belum dihiraukan ya jangan semena-mena juga menyikapinya. Buat saya, ormas ga akan dapat tempat di hati kalo cara mereka menyikapi masalah seperti itu. Mungkin FPI-nya tidak salah, yang salah yang bernaung dalam FPI kemudian melakukan tindakan sembrono atas nama FPI. Masyarakat pasti mendukung kalo ada ormas aktif, tapi mereka tentu saja butuh lingkungan yang tenang.

    BalasHapus
  3. Oh ya, lupa, satu lagi, tingkat pendidikan seseorang juga mempengaruhi cara mereka menghadapi permasalahan lho. Kalau menurut saya, yang melakukan sweeping itu tidak memiliki tingkat pendidikan yang cukup memadai. Mereka tidak memiliki berbagai pilihan teknik dialog untuk menyelesaikan masalah masyarakat.

    BalasHapus
  4. @Mawi Wijna: Iya, kuncinya tingakat pendidikan. Seringnya lebih banyak berkomentar/ kritik daripada belajar/ mencari tahu informasi.

    @annietjia: Iya, organisasi seperti FPI pasti dengan senang hati menerima anggota baru yg banyak. karena mereka butuh massa, tapi akhirnya susah mengontrolnya.

    Thnks for comment.

    BalasHapus
  5. Bener, mungkin mereka kebanyakan anggota. Jadinya gak kekontrol. Mengontrol emosi segitu banyak untuk satu tujuan, apalagi dibawah embel2 'hidup mulia atau mati syahid', untuk yang ilmunya masih cetek dan cuma ikut-ikut, jadilah beringasan dan hanya merusak nama baik agama yang dibela :(

    BalasHapus
  6. Iya, begitu yg diutamakan: banyak anggota = banyak pemasukan+kekuatan.

    BalasHapus