Apa Yang Kamu Rindukan dari Ramadhan Jaman Gus Dur?

Selasa, Juli 23, 2013

Sebelum lebih jauh membaca postingan ini, pahamkan diri anda bahwa saya tak akan membahas tentang Gus Dur di tulisan ini. Terlepas dari jasa-jasanya, saya juga bukan seorang Gusdurian, tidak sedang follow @GUSDURians, dan tidak berniat ikut nobar film Sang Kyai bersama Gusdurians yang marak dilakukan akhir-akhir ini. Rileks ya.

Hanya saja, satu momen yang begitu saya ingat dan sepertinya amat berpengaruh bagi saya terjadi di masa ketika Gus Dur meliburkan hari demi hari di Bulan Ramadhan beberapa tahun silam. Momen itu terjadi saat saya kelas 3 SD ketika saya mulai berubah dari anak yang sering di-bully dan merasa underrated menjadi anak yang agak jumawa dan lebih PD menghadapi problema-problema hidup masa SD (agak terdengar lebay, tapi ini serius). Momen itu ikut ambil bagian dalam perbaikan hidup kelas 3 SD saya.

Bagi mahasiswa usia 20-an tahun, kadang Bulan Ramadhan terasa hampa tanpa adanya kegiatan di siang hari seperti saat hari-hari aktif kuliah (atau mungkin yang ngerasa gitu cuma saya aja?). Tapi bagi anak-anak SD, libur di saat puasa adalah kelegaan. Rasanya amat menyenangkan. Sama seperti generasi kita yang merasa begitu senang dan lega saat libur sebulan penuh (+libur lebaran) di Ramadhan jaman Gus Dur.

Pada saat itu, saya tak punya rencana apa-apa untuk mengisi liburan sampai akhirnya di hari terakhir sebelum liburan seorang guru memberikan beberapa pesan kepada kami, murid kelas 3. Pak Sukir, guru saya, menyarankan kami untuk meminjam buku yang agak banyak di perpustakaan untuk dibaca selama liburan. Pikiran saya bersetuju dengan saran tersebut.

Setelah itu saya buru-buru pergi ke perpustakaan sekolah dan meminjam 5 buku novel anak-anak, bahkan saat saya belum mengenal kata “novel”. Beberapa diantaranya,

1. Ayahku
Dengan mengambil sudut pandang seorang anak kecil, novel ini menceritakan tentang seorang ayah yang semula hidup mapan kemudian memilih menjadi pekerja biasa di sebuah perkebunan karet dengan gaji yang minim. Karena asalnya memang orang kaya dan berkedudukan, si Ayah masih saja terlihat kaya di hadapan para buruh penyadap getah karet yang lain. Salah satunya dengan jam tangan mewah miliknya yang lebih mewah dari jam tangan milik mandor perkebunan. Ending-nya saya lupa.

2. ?? (Yang ini lupa judulnya)
Novel ini menceritakan tentang anak kecil yang ikut berjuang memanggul senjata melawan Belanda di suatu daerah antah berantah. Di akhir cerita, anak kecil ini wafat. Dalam kisah diceritakan pula, ia berhasil menyelamatkan nyawa ratusan prajurit dari kecelakaan kereta. Ia menggagalkan aksi sabotase rel kereta.

3. Pahlawan Cilik dari Bumi Irian
Yang satu ini isinya saya lupa.

4 dan 5
Lalu dua novel terakhir saya lupa judul dan isinya. Hehehe.

Dari judul-judul di atas sudah jelas ya, kenapa saya suka film-film tema perang sampai sekarang. Saya waktu kecil terobsesi untuk jadi tentara karena merasa tentara itu keren, masuk ke hutan-hutan pakai baju tempur dan bawa senjata laras panjang (ngga seperti polisi yang pake baju formal dan bawa laras pendek). Saat kecil ada dua macam korps bersenjata yang saya kenal, tentara dan polisi. Ada stereotip tentang polisi yang jahat dan korup di pikiran saya saat itu, jadi saya pilih mengidolakan tentara (mungkin karena terlalu sering lihat film India di TPI yang biasanya ada polisi jahat dan korup di dalamnya).

Lewat membaca cerita-cerita kepahlawanan, terutama dengan tokoh utama anak-anak, saya merasa menemukan figur panutan di imajinasi saya.

Kembali ke aktivitas membaca di Bulan Ramadhan. Sejak kegiatan membaca-baca novel di Bulan Ramadhan itu, saya mulai suka membaca dan rajin ke perpustakaan. Dari satu buku ke buku yang lain. Dari novel-novel anak, cerita rakyat, sampai biografi singkat.

Beberapa biografi singkat yang pernah saya baca diantaranya biografi singkat Louis Braille, tokoh yang kehilangan separuh penglihatan karena salah satu matanya tertusuk jarum, lalu mendirikan sebuah yayasan untuk orang buta dan menciptakan huruf Braille; juga biografi singkat Habibie yang isinya tentang Ainun yang semula berkulit hitam lalu setelah lulus SMA berubah menjadi seorang gadis berkulit putih nan bersih (cuma itu yang saya ingat dari biografi singkat Habibie yang saya baca dulu, hehe).

Pada waktu kelas 5 SD di sekolah saya diadakan lomba membuat sinopsis novel dan lomba bercerita se-kelas (sekelas aja sih). Kegemaran membaca berdampak positif saat itu. Saya mendapat juara 2 untuk lomba sinopsis dan juara 1 untuk lomba bercerita. Senangnya bukan main hati saya (iya dong, hehhe).

“Membaca itu seperti menanam pohon jati. Kita baru akan merasakan manfaatnya setelah bertahun-tahun kemudian.” (kutipan salah satu aktivis gemar membaca dalam wawancaranya yang dimuat di RCTI sekitar sebelas tahun silam.

Terimakasih Gus Dur atas libur satu bulannya. Terimakasih juga Pak Sukir. Anda berdua ikut andil membantu saya menjadi gemar membaca.

You Might Also Like

2 komentar

  1. saya malah lupa pas jaman Gus Dur sekolah libur selama bulan Ramadhan..

    BalasHapus
  2. Wah, kita ngga seangkatan kayaknya. namanya anak kecil senengnya liburan, sampe kelupaan. :))

    BalasHapus