Indigènes (Days of Glory)

Sabtu, Mei 11, 2013

Scene-from-Days-of-Glory--001.jpg (460×276)
a scene from Days of Glory, taken from The Guardian
Richard Bouchareb tidak berusaha membuat penonton film terkagum-kagum dengan sikap heroik para tentara seperti yang selalu digambarkan lewat film-film anti-Nazi berlatar belakang Perang Dunia Dua. Jika sikap pantang menyerah empat anak muda keturunan Aljazair yang bergabung dengan tentara Perancis dianggap sebagai sajian utama, maka film ini tidak cukup kuat. Konflik sesungguhnya yang ingin diangkat dalam film Days of Glory adalah sikap hiopkritis dan diskriminatif Perancis terhadap para tentara negara jajahannya, yaitu Aljazair dan Maroko yang direkrut untuk membantu mereka melawan tentara Jerman.

Di awal cerita kita akan disuguhi adegan haru seorang wanita tua Aljazair yang tidak rela melepas anaknya bernama Said Otmari yang berkeinginan mengikuti open recruitment Militer Perancis. “Kakekmu tak pernah kembali. Lebih baik aku miskin daripada kehilangan dirimu. Ibu pernah mengalami yang lebih buruk,” kata Sang Ibu. Kata-kata Sang Ibu boleh dikata merupakan ringkasan seluruh cerita film, karena pada akhirnya para tentara rekrutan ini tak pernah kembali ke kampung halamannya.

Said Otmari dan anak-anak muda Aljazair lainnya dijanjikan kejayaan dan kehormatan oleh Militer Perancis. Pada akhirnya orang-orang Aljazair ini terkesan mengesampingkan semua iming-iming itu, karena lewat beberapa gojlokan militer mereka mengaggap Perancis adalah tanah air mereka yang layak dibela. Patriotisme ini akan terkesan klise sepanjang film, tentu karena adanya konflik perbedaan perlakuan.

Turut Campurnya Isu Rasial
Konflik film dipertajam dengan tidak hanya penonjolan sikap-sikap diskriminatif pada tentara rekrutan yang susah naik pangkat dan sering tak masuk kuota untuk pulang. lebih dari itu perbedaan ras Arab dan Afrika dengan orang-orang berambut pirang dan bermata biru menjadi penguat konflik yang sentimentil. Isu-isu rasial ini seperti sengaja diletakkan di beberapa adegan film untuk menghasilkan impact yang lebih.

Sepulang para tentara gabungan ini bertempur di Italia, diceritakan terjadi perdebatan di atas kapal yang membawa mereka. Seorang Maroko berkulit hitam tidak diberi jatah buah tomat, padahal para tentara Perancis diberi jatah. Juga terlontar perkataan “what’s this sh*t?” saat para tentara rekrutan ini harus menonton pertunjukan ballet yang tak mereka sukai. Ada juga kisah long distance relationship antara Messaoud Souni dan wanita Perancis bernama Irene yang akhirnya tidak berlanjut lantaran surat-surat dari Messaoud Souni ternyata tak pernah lolos sensor, hingga Messaoud Souni tak pernah bertemu lagi dengan pujaan hatinya karena gugur di pertempuran terakhir.

Yang tak kalah menarik adalah konflik pribadi dalam diri Sersan Martinez, orang Perancis keturunan Arab yang acap kali menjadi penengah konflik di antara tentara rekrutan dan Militer Perancis. Martinez beberapa kali terlibat adu argumen dengan kolonel Perancis atasannya yang biasanya tersisipi penyebutan ‘tentara Pribumi’.

Suatu waktu terjadi perdebatan antara Martinez dan kolonelnya. 
“Mereka bertempur untuk kita, tapi jika begini bisa membuat mereka berontak,” kata Martinez.
“Kau tahu bagaimana sifat para pribumi itu, Martinez,” kata Kolonel.
“Hindari sebutan (pribumi) itu, Pak.”

Klimaks dan Berakhir
Film ini terasa berhasil membawa semua konflik menuju klimaks di akhir cerita. Kopral Abdelkader, seorang tentara rekrutan Aljazair yang selalu menjadi pembangkang dalam beberapa tindakan diskriminasi Militer Perancis akhirnya mengajukan diri dalam sebuah misi untuk mensuplai amunisi kepada tentara Amerika Serikat di Kamp Lorraine di suatu tempat bernama Alsace. Secara tersirat Abdelkader berkenan menerima misi itu karena ia telah dibebaskan dari sidang mahkamah militer dan dijanjikan kenaikan pangkat. Sebelumnya Abdelkader terancam hukuman mahkamah militer karena terlibat baku hantam dengan atasannya, Sersan Martinez.

Di tengah perjalanan, pasukan pensuplai amunisi ini dihadapkan dengan masalah serius. Seluruh pasukan yang dikirim ke Alsace mati terjebak ranjau kecuali lima orang, yaitu Abdelkader, Messaoud Souni, Said Otmari, Yassir, dan Sersan Martinez yang terluka parah. Komando pasukan pun beralih ke tangan Abdelkader karena Martinez yang berpangkat paling tinggi terluka parah.

Di Alsace tidak ada satu pun tentara AS yang tersisa. Semua tentara AS telah dihabisi tentara Jerman. Kelima pasukan pensuplai yang tersisa, termasuk Martinez yang terluka, terlibat baku tembak dengan puluhan tentara Jerman dengan perlengkapan senjata yang lebih canggih. Setelah bertarung habis-habisan dengan banyak tentara Jerman yang terbunuh, tersisalah seorang, Abdelkader. Dalam kondisi sudah terdesak seperti itu, barulah satu kompi tentara Perancis datang memberi bantuan. Tentara Jerman pun berhasil ditumpas.

Usai pertempuran itu Abdelkader berniat bertemu kolonel yang menjajikannya kenaikan pangkat, namun ia dihalang-halangi. Akhirnya ia tidak mendapatkan apa-apa, hal yang seharusnya sudah ia tahu sejak awal. Adegan klimaks paling ironi adalah saat para penduduk Alsace justru memberikan applause pada Abdelkader, tidak pada tentara Perancis yang berlalu di depannya. Mereka tahu Abdelkader dan empat rekannyalah yang bersusah payah menghalau Jerman sebelum satu kompi tentara Perancis datang.

Pada akhir film dijelaskan, pada tahun 1959 melalui sebuah undang-undang, seluruh pensiunan tentara rekrutan koloni Perancis dibekukan. Mereka tak mendapat apa-apa, termasuk dana pensiun meskipun telah ikut berperang membela Perancis. Pemerintah Perancis pun tak menggubris tekanan Uni Eropa untuk menggaji pensiunan perang rekrutan mereka.

Minim Adegan Pertempuran 
Kekurangan film produksi tahun 2006 ini adalah minimnya adegan pertempuran karena konflik utama dalam film ini bukan perseteruan sekutu-Nazi, tetapi sikap diskriminasi Militer Perancis terhadap tentara rekrutan dari negara koloninya. Tercatat hanya ada dua adegan pertempuran dalam film ini, salah satunya pertempuran di Alsace.

Selain itu kita akan dibuat bingung memahami siapa tokoh protagonis sentral sebelum pertengahan hingga akhir film. Abdelkader sebagai tokoh protagonis sentral kurang terlihat perannya sejak awal. Selebihnya film ini sangat layak untuk ditonton. Banyak kritikus film berpendapat Days of Glory juga punya nilai keakuratan sejarah yang baik. Bahkan film ini sempat dinominasikan sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik pada Academy Award dan memenangkan Prix d'interprétation masculine pada Cannes Film Festival pada tahun 2006. 

Rachid Bouchareb's moving 2006 portrait of the forgotten heroes of the Free French army is not just accurate, it's important,” kata Alex von Tunzelmann, kolumnis di The Guardian.

You Might Also Like

0 komentar