Away Days: Menyapa HMM ITS dan Apa Itu Mesin? [bagian 1]

Minggu, Maret 10, 2013


Tiga tahun lalu saat mantab memilih Teknik Mesin sebagai tempat menuntu ilmu, saya tidak cukup tahu mengenai bagaimana sebenarnya Teknik Mesin itu. Ketidaktahuan yang saya maksud adalah mengenai hubungan antara dunia kampus dan dunia kerja kelak. Setelah menjalani keseharian sebagai mahasiswa mesin, barulah caya cukup tahu bahwa usaha-usaha yang kita lakukan demi nilai-nilai  matakuliah keteknikmesinan atau IPK tak akan cukup membawa kita sukses di dunia kerja.

Jika boleh saya sederhanakan lagi, kita butuh aktivitas non-akademik untuk membantu kita berkembang dan memanusiakan diri agar siap bermasyarakat. Khusus bagi anak-anak mesin  –saya pikir hampir di semua kampus mesin manapun di Indonesia— ada sesuatu yang lebih yang coba ditanamkan. Memaksa diri untuk tidak cepat berhenti sampai garis finish atau bahkan membuat garis finish sendiri yang lebih jauh lagi, menumbuhkan semangat renaisans, menumbuhkan pemeo “we were born to be number one”, dan masih banyak. Semangat-semangat seperti itu tidak hanya akan menjadi bualan belaka selagi kita mampu menunjukkan hasil. Jika berbicara ranah HMJ, jadilah HMJ yang punya proker-proker bagus dan memang visible, mampu menunjukkan kreativitas, atau mampu meraih prestasi dalam berbagai kompetisi. Sederhana dan tak’kan ada pemungkiran.

Seminggu lalu, Sabtu 2 Maret 2012 saya dan saudara-saudara pengurus HMM 2013 berkesempatan melakukan kunjungan ke HMM ITS di Kampus Merah –anak-anak Mesin ITS menyebut kampus mereka dengan sebutan Kampus Merah— Teknik Mesin ITS. Pukul delapan saya memimpin rombongan tiba di ITS. Awalnya saya, Ryan, dan Mas Norman Iskandar disambut oleh dua orang pengurus HMM ITS, Tegar dan Ravi. Sementara itu, rekan-rekan pengurus HMM ITS yang lain –termasuk ketua HMM ITS Aufar Nugraha—  menunggu di depan salah satu ruangan di lantai 3 Gedung Teknik Mesin ITS. Selanjutnya kami dipersilakan untuk memasuki ruangan diskusi yang telah ditata rapi.

Setelah mendengar beberapa sambutan dari Ryan dan Aufar selaku ketua HMM dari kampus masing-masing, serta sambutan dari dosen kemahasiswaan, acara inti pun dimulai. Rekan-rekan HMM ITS menyampaikan presentasi yang sangat apik mengenai proker-proker dan prestasi HMM ITS. Sementara itu, kami juga menyampaikan presentasi yang agaknya semenjana mengenai proker-proker dan prestasi HMM Undip.

Dari presentasi yang disampaikan oleh rekan-rekan HMM ITS, saya dapat melihat bahwa dengan usaha keras mereka mampu menyingkronkan kegiatan-kegiatan non-akademik dengan kegiatan akademik. Dengan kata lain, wadah-wadah himpunan tempat mereka bersosialisasi juga sekaligus tempat mengasah ilmu keteknikmesinan. Salah satu yang paling nyata adalah, dibentuknya divisi di bawah ranah himpunan yang mengelola laboratorium-laboratorium yang ada di kampus ITS. Divisi-divisi ini bersifat semiotonom dan mempunya kegiatan-kegiatan sendiri. Dengan adanya divisi-divisi laboratorium ini mereka dapat bersosialisasi atau berorganisasi sekaligus memperdalam ilmu mekanika yang tentunya terkait secara langsung dengan kuliah. Great!

(Salah satu prototipe mobil hemat energi milik ITS)

Mereka juga mampu menunjukkan semangat sebagaimana yang saya sebutkan di awal. Mereka punya prestasi dalam berbagai kompetisi riset dan teknologi. Yang paling tersohor adalah prestasi mobil Sapu Angin mereka dalam Shell Eco Marathon beberapa tahun belakangan ini. Tidak hanya itu, dalam kompetisi-kompetisi robotika seperti KRI-KRCI mereka juga memiliki andil besar karena beberapa mahasiswa Mesin ITS ikut serta dalam tim KRI-KRCI ITS.

Awalnya saya sempat mengira, prestasi mereka bisa sedemikian bagus karena banyak campur tangan dari jajaran pengajar dan birokrasi ITS dengan kucuran dana yang berlimpah. Walaupun saat ini mereka menerima 70 juta per tahun untuk menjalankan proker-proker mereka, awalnya mereka membangun prestasi secara mandiri. Pada tahun 2007 (kalau tidak salah) saat mobil sapu angin muncul pertama kalinya, mereka membiayai proyek sapu angin mereka dengan bantuan pihak sponsor, sementara pihak birokrasi saat itu belum berani mengeluarkan dana bantuan yang besar. Setelah mobil Sapu Angin yang fenomenal itu berhasil mengukir prestasi, barulah mereka mendapatkan dukungan finansial yang besar dari pihak birokrasi ITS. Mereka menyebutkan semangat menyusun fondasi prestasi itu dengan semangat Bonek (bondo nekat).

Bersambung.

You Might Also Like

0 komentar