Perpustakaan SD Diisi Buku Porno, Perpustakaan Kita Diisi Apa?

Minggu, Februari 17, 2013

lfvPM2VQQC.jpg (400×220)
Dua hari lalu, tepatnya Jum'at 15 Februari 2013, tersiar kabar beredarnya dua buku yang memuat unsur porno di sejumlah sekolah dasar di Kendal. Dua buku yang dimaksud berjudul "Visual Ilmu dan Pengetahuan Populer" dan "Ensiklopedia Iptek". Menurut lansiran media, dalam dua buku tersebut tertulis dengan jelas dan gamblang cara berhubungan badan beserta gambarnya. Beredarnya buku-buku yang pengadaannya dianggarkan melalui dana alokasi khusus (DAK) Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal tahun 2011 ini juga sempat menuai protes dari orang tua murid.

Beredarnya buku-buku di perpustakaan SD yang mengandung unsur porno ini tentu bukan yang pertama. Tahun lalu kejadian serupa juga terjadi di Bogor, Batang, Mojokerjo, dan masih banyak lagi. Bahkan pada kasus yang terjadi di Mojokerto, didapati foto salah seorang bintang porno asal Jepang (anda pasti sudah tahu lah ya, hehe) terpampang nyata di buku pelajaran. 

Saya sendiri pernah membaca kisah Ramayana yang juga memuat kisah yang berbau porno di perpustakaan SD saya sekitar 10 tahun lalu. Saya membaca satu bab mengenai Retno Anjani --bagi anda yang telah membaca kisahnya pasti tahu letak pornonya-- yang 'tiba-tiba' mengandung dan melahirkan Hanoman . Walaupun tidak ada gambaran visual, tetap saja cerita yang saya baca itu mengandung unsur cerita porno. Karena saya belum menghasilkan libido, semua yang saya baca berlalu begitu saja.

Anak SD bukanlah Ratna Sarumpaet (meskipun anak SD bukan FPI juga) yang menganggap menunjukkan beberapa bagian tubuh yang dianggap sangat privat oleh beberapa orang adalah hal biasa dan justru terkadang merupakan karya seni. Anak SD juga bukan ahli sexologi yang mau tidak mau harus buka-bukaan (dalam arti sebenarnya) untuk mendalami bidang keahliannya. Anak-anak SD yang masih memiliki fitrah dalam berpikir tentu akan secara tegas membedakan mana yang porno dan yang tidak porno. Mereka belum punya tendensi-tendensi yang menyelubungi pikiran-pikiran mereka. Mereka belum berlibido, tidak memikirkan soal uang, tidak memikirkan ketenaran, juga belum paham jika sedikit melegalkan 'buka-bukaan' dapat menjadikan mereka digemari banyak orang dan menjadi kaya raya. Mereka belum begitu paham jika DP dan JP bisa terkenal bukan hanya karena jago menyanyi dan akting, tetapi karena 'sesuatu' juga. So, fitrah anak SD harus dijaga.


Menurut Teori Perkembangan Kognitif (cognitive development theory) Piaget (1983), anak-anak dalam tahap operasional konkrit (sebelum 12 tahun) memiliki daya abstraksi yang masih berkembang pada tahap perkembangan otaknya, sehingga akan cepat merespon atau bahkan mempraktikkan apa yang dilihatnya (bacaan lebih lanjut mengenai teori perkembangan kognitif: http://miuiswriting.blogspot.com/2012/10/anak-jaman-sekarang-bukan-anak-beneran.html). Anak dalam tahap operasional konkrit juga belum bisa berpikir secara logis, sehingga mereka belum memiliki filter. Dalam hal ini berarti tindakan-tindakan anak SD juga tergantung dari apa yang sering mereka lihat, entah baik atau buruk. Jadi, tugas orang-orang yang mendidik anak SD adalah menyediakan sumber-sumber tauladan kebaikan agar mereka merespon atau mempraktikkannya.

Sekalipun terdengar non-sense karena pornografi sudah banyak beredar di internet, para pendidik harus menjauhkan pornografi dari anak SD meskipun tidak harus se-ekstrim Calvin Webber dalam film "Blast from the Past" yang mendidik dan terpaksa mengurung anaknya (Adam Webber/ Brendan Fraser) selama 35 tahun dalam rumah hingga anaknya tak pernah sekalipun melihat wanita kecuali ibunya sendiri. Biarlah anak SD sibuk dengan dunia kekanak-kanakannya tanpa merasakan cinta-cintaan dan betapa beratnya menahan rasa rindu seperti yang kita rasakan di usia 20-an tahun ini. Jangan seperti tetangga saya AM yang menyatakan cinta pada gadis pujaannya dengan lagu ST12 saat usianya masih 9 tahun. Bukan apa-apa, ia belum cukup umur.

sumber foto: okezone.com

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook