Mereka Juga Takut

Sabtu, Juli 21, 2012

                                                            (Sumber gambar : min-plus.blogspot.com)


Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah tulisan di Kompasiana mengenai seorang Wanita yang melakukan semacam hypnoparenting terhadap keponakannya. Keponakannya tersebut mulanya sangat takut pergi ke sekolah. Bahkan keluar rumah saja ia tidak berani. Ia sering mengeluh ketakutan karena melihat hantu. Sang Bibi yang mengetahui hal tersebut tidak tinggal diam. Melihat keponakannya yang takut akan hantu, ia memberikan sugesti-sugesti agar anak kecil tersebut menjadi lebih berani. Singkat cerita, bibi tersebut berkata kepada keponakannya tersebut bahwa ia akan memanggil ghostbuster ke tempat-tempat yang menurut anak tersebut banyak hantunya. Alhasil anak tersebut sekarang menjadi lebih berani dan mau kembali pergi ke sekolah seperti biasa.
***
Suatu sore ketika liburan kuliah semester 3 lalu, saya mengajak adik saya, Aden yang baru berusia 4 tahun untuk mengikuti sholat Maghrib berjamaah ke masjid. Ketika saya berwudhu di depan rumah, Aden lebih dulu meninggalkan rumah dengan sedikit berlari. Namun ketika mendengar suara burung hantu yang terdengar cukup menyeramkan, ia berhenti mendadak. Saya tahu Aden saat itu merasa ketakutan mendengar suara tersebut. Saya mencoba mengajaknya berbicara dengan gaya santai agar ia tidak takut.
“Ah, itu cuma burung merpati. Mas Putra juga punya burung kayak gitu. Ngga usah takut,” kata saya yang tak mau menyebut burung itu sebagai burung hantu karena pasti sangat susah menjelaskan pada Aden jika saya menyebutnya burung hantu.
“Apa iya Mas?”
“Iya, dulu Mas Putra punya. Itu ngga nyeremin kok. Dipegang pake tangan aja gampang.”
“Apa menakuti manusia Mas?”
Ngga, dipegang pake tangan aja bisa kok.”
Dengan wajah yang masih terlihat ketakutan. Aden kemudian menceritakan bahwa ia pernah melihat pocong saat pergi ke masjid.
“Aku dulu pernah lihat pocong Mas. Waktu mau ke masjid. Kayak gini,” jelas Aden sambil meletakkan tanggannya di atas kepala dengan jari-jari tangan yang ia arahkan ke atas. Wajahnya berkata seakan-akan pocong yang ia lihat seperti gestur yang ia tunjukkan.
Dengan tangan yang masih basah oleh air wudhu saya memeluk dan menggendongnya, lalu berusaha mencari kata-kata untuk menanggapi cerita yang Aden sampaikan tadi.
Ngga usah takut sama pocong. Dulu Mas pernah ketemu pocong terus Mas pukul pake tangan, di takut terus pergi,” kata saya susah payah menjelaskan.
“Kamu pukul ya Mas ya?”
“Iya, kalau ketemu tak pukul.”
“Dulu aku lihat pocongnya terbang gitu Mas, terus hilang. Apa karena sampai ke Masjid ada banyak orang ya,  pocongnya hilang?”
“Iya, kalau ke masjid pocongnya takut. Lha sama Mas aja pocongnya takut. Nanti kalo ketemu lagi Mas pukul pocongnya.”
“Pocongnya Mas pukul ya?”
“Iya kalau ketemu. Nanti kalau ketemu pocong kamu baca ‘La ilaaha Illallah’, atau ‘bismillah’. Atau kamu bilang ‘nanti kubilang sama Masku lho kamu’, pasti pocongnya takut.”
Kami berdua pun melanjutkan perjalanan ke masjid dan saya mencoba mengganti topik pembicaraan agar Aden merasa kejadian yang ia ceritakan tersebut biasa saja, tidak perlu ditakutkan dan dibicarakan terus-menerus. Jika saya mengajaknya membicarakan hal tersebut terus-menerus, apalagi menanyainya seakan-akan saya sangat penasaran, pasti Aden akan mengganggap apa yang ia alami adalah kejadian yang aneh dan ia justru akan terus-menerus mengingatnya.
***
Saya berbohong kepada Aden ketika saya mengatakan bahwa saya pernah memukul pocong hingga kabur. Tetapi ngga apa-apa-lah, saat itu saya berpikir supaya Aden merasa punya panutan. Supaya Aden lebih berani dan mengganggap pocong itu bukan apa-apa. Pocong itu tidak perlu ditakuti. Walaupun jika bertemu pocong beneran, mungkin saya yang akan kabur.
Tetapi saya menyadari, rasa takut terhadap hantu atau sejenisnya yang saya alami sejak kecil adalah buah dari sugesti-sugesti yang saya terima dari cerita-cerita hantu, film-film misteri, atau tayangan-tayangan televisi yang menyiratkan bahwa hantu itu menakutkan. Bahkan sampai sekarang masih ada film-film ngga bermutu yang mengisahkan hantu gentayangan yang kesana-kemari untuk membunuh manusia dimana hantu seperti itu tidak akan ada di dunia nyata.
Beruntung ada ilmu tauhid, yang membuat kita lebih berani dan lebih meyakini bukan hanya adanya Allah tetapi juga eksistensinya dalam mengatur, memelihara, dan menjaga alam semesta ini. Boleh kita saat ini menjadi generasi yang sewaktu kecil banyak disuguhi sugesti-sugesti yang membuat kita takut terhadap hantu. Tetapi berilah sugesti-sugesti kepada generasi-generasi sesudah kita agar mereka menjadi lebih berani dari kita. Lakukan beberapa hal kecil seperti tidak mengajak anak kecil menonton tayangan-tayangan misteri, tidak menunjukkan kepada anak kecil kalau kita takut ke toilet atau keluar rumah sendiri di malam hari, dan bisa juga kita berperan aktif melaporkan tayangan-tayangan misteri di TV yang tidak mendidik kepada KPI.
Sekian, terimakasih.
@ismail_kra
#RamadhanOneDayOnePost

NB : Mengenai bohong sama adik saya tadi, saya masih bingung. Bohong seperti itu boleh apa ngga. Nanti saya coba tanya ke ustadz aja.

You Might Also Like

0 komentar