Antara Dijajah Belanda dan Jepang

Selasa, Juli 17, 2012

Suatu sore saya ngobrol-ngobrol dengan kakek saya di teras rumahnya menghadap kebun samping rumah sambil menikmati kondisi asri pedesaan di sore hari. Saat itu saya duduk di kelas dua SMA (kalau tidak salah. Maklum, kejadian ini sudah cukup lama). Sebagai seorang cucu, saya sangat jarang mengunjungi kakek dan nenek saya, padahal kata kedua orang tua saya, mereka sering menanyakan saya. Maklum, sejak SMA saya tidak tinggal di rumah, mudik hanya satu atau dua minggu sekali, bahkan saat kuliah bisa dua atau tiga bulan sekali baru mudik. Biasanya ketika saya mudik kedua orang tua saya menyuruh saya untuk mengunjungi kakek dan nenek saya. Jadilah sore itu menjadi pertemuan yang berarti bagi saya dan kakek saya.
Japanese commanders listening to the terms of surrender - en.wikipedia.org

Selain karena untuk memenuhi kerinduan kakek dan nenek saya yang ingin sekali bertemu dengan saya, saya juga ingin bicara banyak dengan kakek saya sore itu. Hampir tidak pernah saya bicara panjang lebar dengannya untuk mendiskusikan sesuatu. Saya ingin menelusuri nasab atau garis keturunan saya, dari kakek, buyut, sampai yang paling tinggi yang kakek saya ingat, lalu saya akan berusaha mengingatnya baik-baik. Jadi suatu saat jika saya punya keturunan, mereka akan mengetahui silsilah keturunannya. Selain itu saya ingin mendengar cerita-cerita dari kakek saya yang lahir pada tahun 1925 tersebut semasa kecil. Boleh dibilang saat ini beliaulah saksi sejarah yang paling saya kenal, yang hidup dan merasakan langsung kondisi Indonesia sejak Jaman Belanda hingga sekarang ini. Selama ini saya membaca cerita-cerita sejarah Indonesia dari buku-buku pelajaran yang banyak diragukan keabsahannya atau dari film-film saja. Dengan mendengar cerita dari kakek saya, saya berharap persepsi saya mengenai kondisi masyarakat waktu itu, kehidupan waktu itu, dan cerita-cerita yang pernah saya dengar sebelumnya dapat lebih tegas tergamblangkan.

Tujuan saya yang pertama untuk menanyakan silsilah keluarga saya kurang membuahkan hasil, karena kakek saya sudah tidak ingat lagi nama kakeknya. Beliau hanya ingat nama bapaknya (kakek buyut saya). Tetapi setidaknya saya dapat mengetahui nama kakek buyut saya.

Lanjut ke pembahasan berikutnya, saya meminta kakek untuk menceritakan pengalaman-pengalamannya semasa kecil, saat masa penjajahan Belanda dan Jepang. Kakek saya menceritakan perlakuan dua bangsa penjajah itu terhadap masyarakat pribumi. Yang menarik buat saya, beliau mengatakan bahwa dijajah Belanda masih mending daripada dijajah Jepang. "Dijajah Londo kuwi isih kepenak, panenan dijupuk Londo mung sebagian (baca: dijajah Belanda itu masih enak, hasil panen yang diambil Belanda hanya sebagian)," kata Kakek.

Pada masa penjajahan Belanda di tahun 1900-an Belanda menerapkan sistem sewa tanah. Pada masa itu orang-orang swasta asal Belanda banyak yang membangun perkebunan di Indonesia dengan menyewa tanah orang pribumi --selain tanah-tanah pertanian warga-- dari Pemerintah Belanda. Ini yang masih membuat saya bingung. Tanah tetap milik orang pribumi tapi uang sewa tanah diberikan kepada Belanda sebagai negara penjajah.

Saat itu ada dua pilihan bagi orang-orang pribumi. Menjadi buruh di perkebunan-perkebunan yang disewa orang Belanda atau menggarap tanahnya sendiri bagi mereka yang punya tanah. Kakek saya mengatakan pada masa penjajahan Belanda (1900-an) para petani yang menggarap tanahnya sendiri wajib menyetor beberapa hasil panen kepada orang Belanda yang menyewa tanah dari Keraton Solo. Kakek saya saat itu tidak menggarap tanah perkebunan, akan tetapi tanah pertanian miliknya sendiri. Dari sini saya mengambil kesimpulan --entah salah atau benar-- bahwa tanah pertanian saat itu dikuasai oleh pihak keraton, dan orang Belanda dapat mengambil keuntungan dengan membayar uang sewa tanah kepada Keraton. Lalu para petani bertugas menggarap tanahnya dan memberikan sebagian hasil panen kepada orang Belanda yang menyewa tanah.

Sistem 'eksploitasi' pertanian seperti itu berubah setelah kedatangan Bangsa Jepang. Menurut kakek saya orang Jepang merampas habis seluruh hasil panen. Semasa pendudukan Jepang suatu waktu akan ada bunyi kenthongan berulang-ulang yang menandakan para tentara Jepang akan melakukan 'razia' dengan masuk ke rumah-rumah penduduk mengambil hasil panen yang disimpan warga, seperti jagung dan lain-lain tanpa tersisa. Pernah kakek saya menyembunyikan beberapa jagung dengan menguburnya di dalam tanah, hingga  beliau sendiri lupa dan akhirnya beberapa hari setelahnya, jagung yang beliau simpan dalam tanah tersebut tumbuh menjadi pohon. Kata kakek, seluruh hasil panen yang diambil oleh Jepang akan dikumpulkan di sebuah lapangan lalu diangkut menggunakan pesawat ke Negeri Nippon/ Jepang (orang-orang dulu terkadang menyebut negara Jepang dengan sebutan Nippon).

Walaupun dijajah bangsa lain --Jepang, Belanda, atau Inggris-- itu jelas tidak enak, tetapi dari penuturan kakek saya yang lahir tahun 1925, masih mending dijajah Belanda pada tahun-tahun tersebut dengan sistem liberal yang mereka terapkan dari pada sistem pemaksaan yang diterapkan oleh Jepang.

Hidup yang Sebenarnya Tidak Sama dengan Film

Gambaran yang tertanam dalam pikiran saya sebelum pertemuan sore itu mengenai masa penjajahan adalah kondisi masyarakat yang serba ditindas, kelaparan, dan terjadi perang di mana-mana. Mungkin tidak salah juga, tetapi menurut saya pada tahun 1900-an kehidupan masyarakat Desa Nglorog --Desa Nglorog adalah tempat kakek saya tinggal-- masih lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya, terutama setelah sistem tanam paksa dihapuskan. Artinya masyarakat masih bisa mendapatkan hasil panennya atau mendapat upah dari perkebunan tempatnya bekerja. Tidak dipaksa bekerja habis-habisan. Selain itu anggapan saya mengenai kondisi masyarakat yang melakukan perang terus-menerus dengan penjajah juga terpatahkan oleh pernyataan kakek saya. Menurut penuturan beliau di daerah Desa Nglorog tempatnya tinggal tidak terjadi peperangan. Peperangan saat itu terjadi di tempat-tempat tertentu.

Saat Itu Dipenjara Lebih Enak

Ketika saya mencoba mengupas mengenai tindakan-tindakan penjajah masa itu yang dilakukan oleh pegawai-pegawai Belanda kepada orang-orang pribumi di area perkebunan, kakek saya mengatakan bahwa perkebunan-perkebunan karet yang banyak terdapat di Desa Nglorog saat itu dijaga sangat ketat. Beliau bercerita mengenai salah seorang temannya yang ditahan oleh orang Belanda karena kepergok mengambil rumput di perkebunan. Kata kakek, temannya tersebut justru mendapat perlakuan yang 'istimewa' dipenjara. Istimewa karena saat dipenjara, teman kakek saya tersebut mendapatkan jatah makan dengan menu yang cukup 'mewah' pada saat itu. Beliau diberi telur dan daging. Tetapi tentu makanan yang enak tidak bisa menggantikan rasa nikmat menghirup udara bebas di luar penjara.

Sekian postingan ini. Mungkin jika bertemu dengan kakek saya lagi, beliau akan saya minta bercerita lebih detail mengenai masa-masa penjajahan dulu. Terimakasih!

Follow : @ismail_kra

You Might Also Like

0 komentar