Pemilih Pemula Yang 'Golput' dan Menyeleweng

Rabu, Juni 27, 2012

(sumber gambar : bukrie.org)

Pilpres 2009 adalah pertama kalinya saya masuk daftar pemilih tetap (DPT). Saya telah berusia 17 tahun saat itu. Saya yang saat itu duduk di kelas 3 SMA dioyak-oyak oleh bapak saya setelah beberapa hari sebelumnya keluarga kami menerima surat undangan dari salah satu panitia TPS di dusun kami.

Walaupun saya sebenarnya merasa skeptis dengan sistem demokrasi yang berjalan di negeri ini, saya mau tidak mau harus datang ke TPS sebagai formalitas saja. Apalagi kedua orangtua saya terus-menerus menyuruh saya untuk pergi ke TPS.

Saya sebenarnya sangat antusias menonton acara debat atau acara-acara yang ngomongin politik di televisi. Tapi itu saat saya masih SD sampai SMP. Setelah saya SMA akhirnya saya menemukan pencerahan. Saya akhirnya menjadi salah satu orang di negeri ini yang menolak sistem demokrasi (menurut saya itu sebuah pencerahan). Jadi pastilah orang-orang seperti saya lebih banyak yang golput daripada yang ikut memberikan suara.

Saya yang semula ingin tinggal di rumah saja dan tidak ikut memberikan suara,  memutuskan untuk tetap datang ke TPS. Tentu saja tidak untuk memilih, tetapi untuk memenuhi hak sebagai warga negara yang baik. Intinya saya datang ke TPS cuma buat tanda tangan saja. Tetapi supaya saya lebih puas menikmati hak saya, sebelum berangkat ke TPS saya telah menyiapkan siasat busuk yang akan saya terapkan saat mencontreng. Saya berencana menempelkan gambar-gambar idola kawula muda di atas gambar-gambar capres dan cawapres. Intinya sebenarnya cuma ingin mencari sensasi saja. Daripada di bilik suara cuma corat-coret kertas suara, sekalian aja nempelin gambar-gambar tadi di atas kertas suara.

Saya mengunduh beberapa gambar atlet idola dan publik figur yang saat itu lagi terkenal-terkenalnya, lalu saya edit ukurannya dan saya print. Kemudian saya menggunting gambar-gambar itu dan menempelkan double tip di belakangnya pagi hari sebelum berangkat ke TPS. Selesailah saya menyiapkan logistik untuk maju perang.

Bersama kawan lama saya, Putra saya berangkat menuju TPS. Walaupun kami berdua adalah tetangga, karena sama-sama sekolah di kota masing-masing kami jadi jarang bertemu. Jadilah hari itu semakin sepesial. Saat itu TPS masih sepi. Jadi, setelah registrasi, kami berdua langsung beranjak menuju bilik suara secara bersamaan dengan tujuan bilik masing-masing tentunya. Tidak sampai sepuluh detik Putra sudah selesai mencontreng, sementara saya masih sibuk mencopoti double tip dan menempelkan gambar-gambar idola kawula muda yang telah saya siapkan sebelumnya. Walaupun tidak wajar karena saya berada di bilik lebih lama daripada pemilih-pemilih yang lain, beruntung panitia dan segenap pemilih yang hadir tidak curiga dengan aksi saya. Saya lipat baik-baik kertas suara, saya masukkan kotak suara, dan akhirnya saya puas bikin sensasi (he he he).

Banyak orang-orang yang masuk DPT tetapi memilih golput seperti saya. Beberapa teman saya yang juga memilih goplut juga tetap datang ke TPS. Kebanyakan dari mereka memilih datang ke TPS karena ngga enak sama tetangga, orang tua, atau orang dekatnya. Sama seperti saya yang datang ke TPS karena disuruh orang tua. Tetapi yang paling penting ketika orang-orang golput seperti saya memilih untuk datang ke TPS adalah dengan memilih datang ke TPS berarti kami juga menghargai orang lain, seperti panitia yang memberikan undangan, orang tua, dan tetangga-tetangga kami yang juga datang ke acara pemungutan suara tersebut. Walaupun -sekali lagi- kami tidak memilih, tetapi hanya menggunakan hak saja.

Terimakasih

You Might Also Like

0 komentar