Mengapa Demonstrasi?

Rabu, Juni 13, 2012

Sejak lengsernya pemerintahan orde baru pada tahun 1998 lalu, kebebasan berpendapat dan berekspresi seakan menjadi keharusan dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut saya kebebasan berpendapat atau berekspresi memang seharusnya dijamin oleh setiap pihak. Setiap orang berhak mengeluarkan pendapat atau berekspresi menurut kemauannya tanpa ada intimidasi asalkan tetap mematuhi norma-norma yang berlaku.

Orang-orang yang lebih 'terdidik' biasanya lebih berani mengutarakan pendapatnya karena ia merasa memiliki dasar yang ia pegang sehingga ia punya alasan untuk menyampaikan sesuatu, mengkritik, atau melakukan tindakan yang ia nilai baik bagi dirinya. Asalakan setiap orang mau belajar, mau terus-menerus meng-upgrade pengetahuannya, saya yakin kita akan menemukan bentuk ideal bagaimana kita menyampaikan pendapat dengan cara terbaik dan menemukan solusi atas sebuah permasalahan dengan cara terbaik pula. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, orang 'terdidik' akan lebih berani menyampaikan pendapatnya. Dan orang 'terdidik' akan lebih matang dan lebih bijaksana dalam mengeluarkan pendapatnya.

Bagi sebagian orang menyampaikan pendapat dengan cara melakukan demonstrasi adalah cara yang cukup baik untuk menuntut sebuah perubahan yang mereka inginkan. Entah darimana budaya demonstrasi ini berasal, yang jelas di berbagai negara yang menerapkan sistem demokrasi dalam pemerintahannya, hampir pasti selalu ada demonstrasi di sana. Sebut saja Mesir, Amerika, Jepang, Inggris, dan juga Indonesia tentu saja. Banyak orang mengatakan sistem demokrasi berasal dari negara-negara barat. Namun kenyataannya sistem ini juga diadopsi oleh negara-negara timur, termasuk negara-negara Islam. Dan sekali lagi, dimana demokrasi diterapkan, disitu itu pula kita akan menemukan demonstrasi.

Dalam sejarah Islam sendiri, demonstrasi pertama kali (yang saya ketahui dari baca buku sejarah Islam) dilakukan oleh suatu kelompok Khawarij (kelompok menyimpang yang memberontak kepada pemerintahan Islam yang sah kala itu). Mereka ingin melengserkan kekhalifahan Utsman bin Affan kala itu, dan mereka juga membunuh sahabat Utsman bin Affan, dan tujuan mereka untuk melengserkan Utsman bin Affan tercapai. Mungkin lebih mirip dibilang pemberontakan dari pada demonstrasi (walaupun kadang-kadang demonstrasi yang sekarang kita kenal juga berakhir seperti itu). Yang membuat beda, demonstrasi yang terjadi kala itu bukan karena sistem pemerintahan yang diterapkan, tetapi karena inisiatif dari sekelompok orang yang "menyimpang" dari sistem.

Dari sedikit cerita di atas bisa kita simpulkan bahwa memang dengan melakukan demonstrasi atau mengerahkan massa entah apa namanya, sekelompok orang dapat mencapai perubahan yang mereka inginkan akan suatu tuntutan. Coba bayangkan, kalau pemberontakan seperti dalam cerita Utsman bin Affan tersebut cuma dilakukan 5-10 orang, maka tidak mungkin perubahan yang mereka inginkan itu dapat tercapai. Kekuatan massa inilah yang digunakan sekelompok orang untuk menekan sebuah lembaga atau pemerintah.

Ketika beberapa bulan lalu ada ribut-ribut soal rencana kenaikan BBM saya me-mention @fadjroel dengan men-tweet bahwa demonstrasi tidak harus dilakukan, menyampaikan pendapat bisa dengan pena atau buku. Saat itu @fadjroel me-retweet tweet saya dan seketika itu pula saya di-mention banyak orang yang kebanyakan tidak sependapat dengan isi tweet saya. Yang saya ingat kala itu ada yang mengatakan bahwa dengan demonstrasi bisa lebih cepat mendapat respon, ada juga yang mengatakan kalau tidak dengan cara demonstrasi maka tujuan akan lama tercapai.

Ketika saya mengikuti sebuah workshop di kampus saya, saat itu ada pembicara yang mengatakan, "Kalau kemarin mahasiswa Indonesia ngga melakukan demo ke Jakarta saat ada rapat DPR soal kenaikan BBM, saya ngga yakin kalau BBM ngga jadi naik."

Dari sini saya tahu kalau tujuan melakukan demonstrasi sekarang ini tidak hanya untuk menyampaikan pendapat, tapi ingin pendapatnya diiyakan oleh obyek demonstrasi atau pemerintah dalam kasus ini. Walaupun kita tahu bahwa tidak semua orang menolak kenaikan harga BBM, tetapi orang-orang yang melakukan demonstrasi untuk menolak kenaikan BBM ingin apa yang mereka suarakan dituruti oleh pemerintah. Menurut saya ini lebih mirip pemaksaan kehendak bukan menyampaikan pendapat. Kalau cuma ingin menyampaikan pendapat harusnya cukup dengan mengirimkan surat atau menemui wakil di DPR untuk menyampaikan uneg-uneg-nya lalu pulang. Tidak perlu berjam-jam melakukan orasi atau longmarch. Lalu saya juga berpikir jika ada sekelompok orang yang setuju dengan kenaikan BBM yang jumlahnya sama banyaknya dengan kelompok yang menolak kenaikan BBM dan mereka melakukan demonstrasi di tempat yang sama, apa yang terjadi? Kalau mereka cuma ingin menyampaikan pendapat pasti aman-aman saja. Tapi kalau kedua sama-sama ngotot ingin pendapatnya diiyakan, pasti suasananya jadi panas. Jika kita ingin dewasa dalam menyampaikan pendapat, tentu saja kita harus menghargai pendapat orang lain. Tetapi dalam kondisi seperti itu, mungkinkah sikap saling menghargai itu dapat tercapai? Kecuali kalau mereka semua duduk dan diskusi bersama-sama, lalu membuat keputusan.

Saat ini kebanyakan orang menganggap demonstrasi sebagai solusi yang tepat untuk menyampaikan pendapat karena mereka merasa tidak ada jalan lain yang lebih baik dan efektif untuk menyampaikan pendapat. Hal ini diperparah dengan penyelenggara pemerintahan yang dirasa tidak kompeten menurut sebagian orang, karena pastilah tidak ada sosok yang sangat ideal yang sesuai dengan harapan setiap orang untuk meng-handle negeri ini. Kita tidak tahu kemana kita mengadu jika kita merasa kenaikan BBM menyengsarakan rakyat, ke Pak RT-kah? Bupatikah? Atau wakil kita di DPR, sementara kita sendiri juga tidak tahu siapa wakil kita di DPR yang berasal dari daerah pilihan kita saat ini, sementara kebanyakan orang ingin ambil bagian dalam setiap pengambilan keputusan oleh pemerintah dengan menyampaikan pendapat. Kadang kita mendengar ada anggota DPR yang mengatakan, "Dari konstituante saya (rakyat yang memilihnya), saya menyimpulkan bahwa rakyat tidak ingin...." atau "Saya rasa konstituante saya belum ...." padahal kapan kita sebagai rakyat ditemui anggota DPR?

Jika ada sistem yang dapat menampung aspirasi masyarakat dari bawah secara menyeluruh pasti hal ini akan lebih efektif daripada harus demonstrasi. Selama ini jika saya memiliki keluhan dan ingin menyampaikannya kepada Presiden SBY, saya akan kirim SMS ke nomer 9949 (nomor pengaduan SBY) dan saya yakin SMS saya akan dibaca setidaknya oleh staff khusus yang menangani layanan itu. Karena bagi saya cara terbaik untuk menyampaikan pendapat kepada pemerintah adalah dengan bicara empat mata atau berdiskusi dengan pemerintah. Jadi jika tidak bisa menemuinya saya cukup SMS, mengirim email, atau menitipkan pesan pada seseorang (wakil). Itu sudah cukup bagi saya. Jadi saya tidak harus ikut demonstrasi. Toh sudah ada lembaga-lembaga negara yang menjalankan fungsi controlling terhadap pemerintah dan terhadap lembaga lain. Kebetulan saai ini saya juga ikut dalam wadah pers kampus. Saya sendiri juga selalu ingin jika media kampus ingin menjalankan fungsi controlling, harus secara berimbang dan selalu berusaha melakukan konfirmasi dengan cara  melakukan wawancara pada pihak obyek jika ada isu yang ingin diangkat yang menyangkut obyek tersebut.

Sebenarnya demonstrai adalah salah satu buah dari sistem demokrasi yang menurut saya tidak sesuai diterapkan di Indonesia. Tapi biarlah kita belajar dulu untuk memperoleh input sebanyak-banyaknya agar lebih bijak dalam berpendapat. Sementara ini postingan saya cukup disini dulu...

You Might Also Like

0 komentar