Pak Polisi Juga Manusia

Jumat, April 13, 2012

Salah seorang teman satu sekolah saat SMP dulu pernah mengatakan bahwa orang tuanya selalu menuruti semua kemauan-kemauannya apapun itu. Sebut saja namanya Una (nama samaran). Dia sebenarnya bukan satu angkatan denganku, ia seangkatan dengan kakakku. Tetapi aku cukup mengenalnya. Ia adalah salah seorang teman yang humoris dan seperti katanya, ia sepertinya cukup dimanja oleh kedua orang tuanya.

Suatu ketika Una pernah meminta dibelikan sepeda motor oleh orang tuanya dan akhirnya orang tuanya pun mengabulkan permintaan itu walaupun speda yang dibelikannya adalah sepeda motor bebek model lama yang tentunya tidak cukup keren kalau dikendarai oleh anak muda. Semenjak saat itu ia selalu mengendarai motor itu untuk pergi ke sekolah. Ia pun jadi lebih aktif mondar-mandir dengan mengendarai motor barunya itu. Ia juga sering mengantar pulang salah seorang teman baiknya bernama Uki seusai sekolah dengan melintasi depan rumahku.
Salah satu kebiasaan Una ketika mengendarai motornya itu adalah membawa helm dngan tidak mengenakannya di kepala tetapi justru meletakkannya di keranjang depan motornya. Helm yang ia bawa pun bukan helm standard. Tak ayal ia pun kena batunya ketika suatu sore melewati sebuah jalan raya dekat hutan karet. Saat itu beberapa polisi lalulintas melakukan razia terhadap kendaraan bermotor yang melalui jalan tersebut. Una pun ikut terjaring dalam razia tersebut dan diinterogasi oleh petugas. Ia pun menjadi sasaran empuk petugas, apalagi dengan usianya yang belum sampai 16 tahun, tentu ia belum memiliki SIM.
“Selamat siang Mas. Tolong tunjukkan surat-suratnya!” kata seorang polisi.
“Tolong Pak, ampun Pak,” secara tiba-tiba Una merengek-rengek dan meminta belas kasihan pada petugas yang menyapanya itu.
“Tolong Pak, ampun Pak! Kasihani saya Pak, saya ini anak yatim piatu Pak! Bapak saya meninggal karena struk, trus ibu saya kecelakaan di Salatiga Pak!” kata Una sambil merengek-rengek dihadapan salah seorang polisi.
Entah ide dari mana, Una saat itu berakting dengan merengek-rengek untuk meminta belas kasihan bapak-bapak polisi yang melakukan razia. Ia pura-pura menangis dan mengatakan bahwa ia adalah anak yatim piatu. Padahal kedua orang tuanya masih hidup dan masih baik-baik saja saat itu.
“Ah, jangan bohong kamu....!” kata salah seorang Polisi yang tentu tidak percaya dengan rengekan Una tersebut.
“Benar Pak, saya ini anak yatim piatu,” rengek una yang masih belum menyerah dengan aktingnya tersebut.
Akhirnya ide Una tersebut berhasil. Karena rengekan Una yang terlihat amat nyata dan terus-menerus, mereka pun memutuskan untuk tidak menilang Una. Tetapi mereka meminta Una untuk datang ke kantor Polisi dengan diantar oleh ketua RT untuk mengambil motornya.
“Ya sudah. Kamu pulang aja dulu. Untuk sementara motormu dibawa ke kantor. Kamu besok boleh ambil di kantor, tapi kamu harus ke kantor diantar Pak RT,” kata seprang polisi.
“Iya Pak, ya. Makasih Pak,” kata Una dengan wajah melasnya.
Una pun kembali ke rumah dan menceritakan kejadian tersebut kepada orang tuanya. Setelah Una selesai membeberkan kejadian itu, Una dan bapaknya pun membuat rencana agar dapat mengambil motor Una kembali dari kantor Polisi. Una menyuruh bapaknya untuk berpura-pura menjadi ketua RT dan meyakinkan polisi yang menahan motornya agar mau mengembalikan motornya. Setelah rencana tersusun rapai, kini mereka tinggal menunggu hari esok dan melakukan eksekusi atas rencana-rencana tersebut.
Keesokan harinya Una dan bapaknya bergegas ke kantor polisi untuk menemui polisi yang menahan motornya. Setelah sampai di depan kantor polisi dan memarkirkan motor, mereka berdua masuk ke dalam kantor. Setelah menanyai beberapa petugas, mereka akhirnya sampai di salah satu ruangan. Una dan bapaknya segera dipersilahkan masuk oleh salah seorang polisi yang ikut dalam razia sehari sebelumnya. Setelah mereka berdua bertatap muka dengan polisi tersebut, Bapak Una segera ditanyai oleh polisi tersebut.
“Anda Pak RT-nya?” tanya polisi tersebut dengan menatap wajah Bapak Una.
“Iya benar,” kata Bapak Una yang mengaku sebagai Pak RT dengan wajah yang meyakinkan.
“Apa benar anak ini yatim piatu?” tanya Pak Polisi yang seakan tidak yakin.
“Benar Pak, iya. Anak ini memang yatim piatu. Saya kenal betul sama anak ini. Memang kasihan sekali anak ini Pak.”
Karena mungkin merasa cukup dengan kesaksian Ketua RT ‘gadungan’ itu, polisi tersebut memutuskan untuk membebaskan Una dari tilang.
“Ya sudah, kamu boleh bawa motormu pulang. Jangan diulangi ya!” kata polisi itu sambil menghadapkan wajahnya ke arah Una.
Setelah motornya dikeluarkan dari ‘sel penyimpanan motor’ di kantor polisi, Una pun menuntun motornya hingga ke depan kantor dan menyetarter motornya. Setelah menyetater berulang-ulang kali, mesin motor tak kunjung dapat dihidupkan. Setelah ia mengecek tangki, ternyata bensin dalam tangki motornya habis.
“Kenapa Dik..?” tanya polisi tersebut yang ikut mengantarkan Una dan bapaknya hingga ke depan kantor polisi.
“Bensinnya habis Pak,” kata Una.
“Ya udah, ini takkasih uang buat beli bensin.”
Mungkin polisi itu masih merasa iba dengan Una atau mungkin ia juga merasa bersalah karena membawa motor Una ke kantor polisi hingga bensinnya habis.
Una pun segera membeli bensin dengan uang beberapa ribu rupiah pemberian polisi tersebut. Una dan bapaknya pun akhirnya pulang ke rumah dengan selamat. Tidak hanya mendapatkan motornya kembali tetapi Una juga bebas dari tilang dan justru diberi uang oleh polisi.

Memang benar kata salah seorang petinggi Polri, “polisi juga manusia”. Mereka sama seperti kita. Mereka juga orang biasa yang punya titik lemah. Tetapi kita berharap pak polisi akan terus ada untuk mengayomi masyarakat. Terimakasih! Sekian.

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook