Mencoba Menulis Opini Tentang Galau

Minggu, April 08, 2012

Telah menyimpang dari makna sebenarnya, kata galau kini menjadi populer di telinga remaja. Setiap orang dari kalangan bawah hingga kalangan atas, dari anak kecil hingga orang tua banyak yang mengungkapkan kegalauan mereka dengan sadar sesuai makna galau yang mereka pahami sekarang ini. Kita sebagai mahasiswa yang notabene adalah kalangan terpelajar pun tak kalah untuk mengungkapkan kegalauan dengan berbagai hal, dan yang paling mudah adalah dengan melakukan sekumpulan tindakan di dalam kamar
. Berbaring sambil mengingat kesalahan-kesalah setiap hari, duduk bersandar sambil memegang jidat, menengok ke jendela dan memandangi langit yang cerah, atau gonta-ganti status di socialmedia merupakan hal-hal yang bisa dikatakan menunjukkan kegalauan yang masih dalam taraf wajar. Itu semua adalah kegalauan-kegalaun dalam perspektif orang di jaman sekarang.
Galau dalam hal ini bisa kita definisikan sebagai rasa bimbang, sedih, haru, atau rasa sesal. Jika dfinisnya begitu, sebagai manusia biasa pasti pernah merasakan hal-hal yang demikian. Contoh bentuk-bentuk kegalauan yang saya sebutkan di atas masih dalam taraf yang wajar asal tidak dilakukan dalam waktu yang terus menerus dan tidak mengusik orang lain. Yang jadi masalah adalah jika kesedihan-kesedihan itu membuat kita menjadi terperosok jauh hingga mengganggu aktivitas-aktivitas sehari-hari kita, karena kebanyakan orang sering melebih-lebihkan kegalauannya secara ekspresif.
Menjadikan buku harian, blog, atau socialmedia sebagai tempat curhat adalah bentuk kegalauan yang paling simpel dan paling umum dilakukan di kalangan remaja. Apakah hal ini negatif? Tidak juga. Sepanjang tidak melanggar batasan-batasan galau yang wajar seperti yang saya sebutkan di atas, menurut saya hal semacam ini boleh-boleh saja dilakukan. Mungkin juga tulisan-tulisan kegalauan kita di media-media tersebut akan menjadi buku atau blooker (blog buku) yang bisa kita usulkan ke penerbit. Salah satu yang dapat kita contoh adalah mantan presiden kita BJ Habibie yang merasa sangat sedih karena ditinggal oleh almarhumah Ainun Habibie. Oleh konsultan medisnya, Habibie disarankan untuk menulis semua hal yang ingin ia ungkapkan agar dapat menghilangkan kesedihannya. Tulisan-tulisan yang ia buat kini telah tersusun dan menjadi buku yang telah diterbitkan dan dicari banyak orang.
Apa yang dilakukan oleh Habibie bisa dikatakan bentuk kegalauan yang positif. Selain dapat menghilangkan kesedihan ternyata juga dapat menjadi nasihat bagi banyak orang yang membaca bukunya. Tetapi ternyata banyak juga pejabat atau orang terkenal yang mengungkapkan kegalauan dengan melampaui batas. Kita tentu ingat beberapa waktu lalu ada salah seorang pejabat yang ingin menunjukkan bahwa ia tidak terlibat dalam sebuah kasus korupsi mengatakan bahwa ia rela digantung di Monas jika terbukti bersalah. Mungkin ini adalah contoh kegalauan yang tidak patut dilakukan. Meskipun hanya berupa ungkapan dalam satu kalimat saja, kita jadi risih mendengarkannya karena ada kata-kata yang menunjukkan tindakan negatif yang amat tidak boleh dilakukan karena dilarang agama dan pelakunya akan dicap buruk oelh masyarakat. Yaitu tindakan gantung diri. Karena apapun alasannya, gantung diri tidak boleh dilakukan. Nah, dari kasus ini kita jadi tahu contoh kegalauan yang tidak patut dilakukan. Yaitu kegalauan yang melewati batas-batas norma yang ada dan membuat orang lain menjadi risih meskipun hanya dengan kata-kata.
Kegalauan atau pengungkapan seseorang atas kesedihan atau penyesalan yang ia alami adalah hal yang wajar dilakukan karena bagaimanapun jua kita adalah manusia biasa yang punya titik lemah dan emosi yang tidak selalu stabil. Salurkanlah kegalauan kita dengan wajar dan bijaksana. Lanjutkan hidup dan bangkit setelah kita mengungkapkan kegalauan kita.

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook