Nonton Bola Bareng Pak Polisi dan Orang Gila (Bag. 3)

Senin, Maret 19, 2012

Dengan harap-harap cemas, aku yang memimpin teman-temanku mencarai jalan aman mengantarnya ke kantor polisi. Aku memilih-milih rute yang ramai karena takut jika memilih rute-rute yang sepi sewaktu-waktu dia menikamku dari belakang. Mungkin terlalu berlebihan ketakutanku itu. Tetapi jika setiap orang berada pada posisiku saat itu pasti jantungnya juga berdebar lebih kencang karena takut dan curiga.
Yang paling membuat jantung berdebar-debar adalah wajahnya yang pucat dan ucapannya yang ketus dan jutek. Apalagi dia tidak pernah tersenyum dan seperti asyik sendiri dengan apa yang dia pikirkan seakan-akan merencanakan sesuatu. Mungkin ini juga disebabkan karena aku sering menonton film-film aksi yang secara tidak langsung mempengaruhi jalan pikiranku ketika bertemu orang yang wajahnya sama seramnya seperti yang digambarkan dalam film-film itu.
Dengan penuh gelisah, akhirnya beberapa menit kemudian aku dan yang lainnya sampai di Polres. Waktu itu sekitar jam 8 malam kami langsung berpapasan dengan salah seorang polisi yang sedang berjalan di parkiran halaman depan Polres. Aku sudah menduga, pasti polisi ini akan menjawab pertanyaanku dengan nada tinggi seperti orang marah ketika aku menanyainya.
Pengalamanku dulu, karena tidak tahu mana kantor Polisi Satuan Lalu Lintas aku mampir di Polres dan memarkirkan kendaraanku disana lalu menanyai salah seorang polisi yang berada di parkiran untuk mencari tahu dimana kantor Polisi Satuan Lalu Lintas berada. Dengan judes, dia menunjuk-nunjukkan jarinya sambil marah-marah ke arah pagar sebelah timur kantor Polres, “Sana-sana, terus sana-sana!” setelah itu dia pergi begitu saja tanpa memberi informasi yang jelas. Setelah aku menelpon seseorang ternyata kantor polisi satuan lalulintas ada di sebrang jalan. Tampaknya mengatakan “kantor polisi lalu lintas di sebrang jalan” dengan ramah lebih sulit daripada dengan judes mengatakan “sana-sana, terus sana!” Ya sudahlah. Memang aku lebih sering bertemu oknum polisi yang kurang ramah daripada yang ramah.
Parahnya, sepertinya polisi yang aku temui bersama teman-temanku malam itu adalah polisi yang sama ketika aku mencari dimana kantor Polisi Satlantas beberapa waktu silam.
“Permisi Pak! Ini saya Ismail tadi waktu saya berada di sekolahan bersama teman-teman saya, ada seseorang namanya Lukman dari Tegal yang katanya sedang mencari bapaknya. Bapaknya awalnya ke sini tapi sekarang sudah balik ke Tegal,” jelasku.
“Apa? He, apa..?” tanyanya dengan nada ketus.
“Ini Pak, ada orang dari Tegal yang nyari bapaknya. Dia ga punya uang buat pulang,” jelasku lebih ringkas.
“O, ghitu. Sana-sana laporan sana. Itu ada yang piket!” jawab bapak itu dengan lebih ramah.
Setelah polisi itu pergi keluar gerbang dengan kendaraannya, aku dan teman-temanku menghampiri beberapa polisi yang sedang piket dan tampaknya juga sedang asyik menonton bola. Begitulah, memang negeri ini negeri pecinta bola, dari kalangan bawah sampai kalangan atas tak mau ketinggalan menonton pertandingan Indonesia VS Thailand malam itu. Mungkin cuma kami berempat, aku, Lukman, Teguh, dan Taka yang disibukkan laporan orang hilang ke kantor Polisi.
“Misi Pak!” sapaku.
“Kenapa?” tanya salah seorang polisi.
“Ini Pak. Eee.... Saya tadi ketemu sama ini, Lukman. Dia dari Tegal nyari bapaknya kesini, tapi katanya Bapaknya sudah balik ke Tegal, trus dia ga punya uang buat balik ke Tegal. Ghitu Pak,” jelasku dengan lengkap.
Polisi-polisi itu tidak langsung menjawab pertanyaanku. Mereka justru melihati Lukman dari bawah ke atas dengan sangat serius. Aku pun akhirnya ikut melihati Lukman. Tampaknya mereka merasa ada sesuatu yang aneh dari Lukman. Lukman yang berdiri tepat di bawah lampu berdaya besar dengan bentuk seperti lonceng, seakan-akan sedang diinterogasi oleh kami semua.
“Kamu laki apa perempuan?” celetuk salah seorang polisi.
“Perempuan Pak!” jawab Lukman dengan wajah tetap datar.
“Perempuan apa Laki?” pak polisi yang lain ganti bertanya.
“Ee..ee.. laki Pak!” lukman menjawab seperti kebingungan.
“Laki apa perempuan?”
“Perempuan Pak.”
“Kalo perempuan kok punya jenggot. Perempuan apa laki?”
“Laki Pak.”
“Laki kok pake BH....! Copot bajumu..!” tanya polisi itu dengan menggertak.
Kami berempat pun kaget dengan perintah salah seorang polisi yang menyuruh Lukman melepas baju. Dengan pengalaman bertahun-tahun sebagai polisi dan mungkin juga pengalaman menginterogasi pelaku-pelaku kriminal, polisi-polisi itu berhasil mengungkap siapa Lukman Al-Hakim sebenarnya. Ternyata dia orang gila.
Dengan menahan malu aku pun duduk di samping salah seorang Polisi dengan tawa yang tertahan di bibir sampai akhirnya aku tidak bisa lagi menahan tawa setelah melihat Lukman melepas bajunya. Lelaki ini ternyata memakai BH. Bahkan tidak hanya satu. Dia memakai BH warna putih dan merangkapnya dengan BH warna hitam. Tampak jelaslah kegilaannya.
Tidak sampai disitu. Salah seorang polisi tertua masih saja ingin bercanda dengan menanyai Lukman.
“Ini siap...? Abangmu?” tanya polisi tua itu pada Lukman sambil menunjukkan jarinya kepadaku.
“Iya...” jawab Lukman dengan lirih dan seperti kebingungan.
“Yang di kaosmu itu siapa? Bapakmu?” tanya polisi itu sambil menunjuk kaos yang dipakai Lukman yang bergambar salah seorang calon kepala daerah.
“Iya...”
Kami dibuat tertawa dengan tingkah Lukman yang kebingungan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Ada aksen yang aneh dari Lukman. Hampir setiap ditanyai di selalu menjawab ‘iya” tetapi aku tidak menyadarinya sejak awal.
“Gimana Mas, orang gila gini dibawa kekantor Polisi. Bawa sana ke rumahmu.”
“Iya Pak. Tadi saya kira masih waras Pak. Jadi saya bawa kesini.”
Kata polisi yang duduk di sebelahku orang waras bicaranya tidak seperti itu, “Kalo orang waras, ngomongnya ga gini-gini amat,” katanya.
Akhirnya Lukman pun dia suruh duduk dan salah seorang polisi membelikannya nasi bungkus dan beberapa buah rambutan. Sambil menunggu mobil patroli polisi datang untuk mengantarkan Lukman ke kantor Dinas Sosial setempat, kami menonton pertandingan Piala AFF bersama bapak-bapak polisi. Syukurlah kami masih bisa menyaksikan beberapa menit pertandingan dan Lukman bisa makan setelah seharian menahan lapar. Hari-hari selanjutnya pasti dia bisa makan lebih lahap dan bisa lebih terawat dalam perlindungan Dinas Sosial. Semoga setelah sembuh nanti dia mengganti namanya menjadi “Luck-Man” alias orang yang beruntung dan bertemu bapaknya dengan segera setelah ia sembuh.

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook