Nonton Bola Bareng Pak Polisi dan Orang Gila (Bag. 2)

Senin, Maret 19, 2012

Karena kasihan dengan lelaki itu aku akhirnya aku masuk ruang guru dan meminta makanan kepada teman-temanku yang ada dalam ruang guru saat itu. Beberapa temanku yang ada disana saat itu adalah Katon, Teguh, Mas Taka, dan Aji yang sudah menyusul yang lainnya untuk menonton bola. Aku tanyai mereka satu per satu untuk meminta makanan jika ada, untuk kuberikan pada lelaki itu. Mereka tidak ada yang mempunyai makanan barang sedikit. Saat itu mereka tengah asyik menonton pertandingan. Lantas aku pun tidak menanyai mereka lagi.
Saat aku akan keluar ruangan dan berbalik badan ternyata lelaki itu ada tepat di hadapanku. Mungkin karena laparnya, dia mengikuti aku kedalam ruangan untuk segera mendapatkan pertolongan atas kelaparan-kelaparan yang dia rasakan seharian.
“Eh, kamu ngikutin aku ya?”
“He eh.”
“Sebentar-sebentar. Makanannya belum ada. Kamu keluar dulu sana, duduk di depan.”
Akhirnya aku mengantarnya keluar ruangan dan mengarahkannya untuk duduk di bangku beton beranda ruang guru. Setelah aku kembali ke dalam ruangan aku melihat ada beberapa potong gethuk, makanan tradisional orang-orang Jawa yang menjadi brand image kota Magelang yang terbuat dari singkong atau ketela. Saat itu gethuk terletak di atas salah satu meja di kantor guru. Karena aku merasa gethuk itu mungkin sudah tidak dimakan lagi, aku ambil saja gethuk itu untuk kuserahkan pada lelaki yang aku suruh menunggu di beranda ruang guru.
Setelah aku keluar dari ruangan dengan tak lupa aku juga membawa segelas air putih dari dispenser ruang guru, langsung saja aku serahkan gethuk kepada lelaki itu.
“Ini ada gethuk, makan saja,” kataku pada lelaki itu sambil menyodorkan gethuk.
“Ya.”
Lega juga rasanya bisa menolong lelaki yang menurut ceritanya sendiri ia belum makan sejak pagi. Mungkin selain belum makan dari pagi dia juga belum minum dari pagi. Karena dari raut mukanya dia seperti sangat kelelahan, bajunya pun lusuh.
Beberapa saat aku duduk di sampingnya, lelaki itu menggerutu, “Juih-juih, ga enak?”
“Kenapa?”
“Rasanya ga enak.”
Aku pun meminta sebagian gethuk yang belum ia makan dan mendekatkannya ke hidungku. Ternyata memang gethuk itu sudah basi. Pantas saja rasanya tidak enak.
Aku baru ingat beberapa hari ini sewaktu istirahat ada seorang wanita yang berjualan gethuk di sekolah. Wanita itu biasanya masuk gerbang sekolah untuk menjual gethuk. Dan biasanya ada beberapa guru yang membeli gethuk-gethuknya. Sebenarnya jarang ada penjual-penjual makanan yang masuk gerbang sekolah. Tetapi karena ruang guru memang tidak terlalu jauh dari gerbang sekolah bagian selatan dan beberapa guru mungkin sudah menjadi pelanggan setia penjual gethuk itu, jadi penjual gethuk itu sering masuk ke dalam gerbang sekolah.
Nah, pastilah gethuk yang dimakan oleh lelaki itu sudah basi, karena gethuk itu dijual waktu pagi hari. Pantas saja sudah tidak enak dimakan, dan lelaki itu tidak memakan gethuk itu lagi. Aku pun langsung meminta gethuk yang tersisa untuk aku buang ke tempat sampah.
Lelaki itu kemudian meneguk segelas air yang aku berikan. Setelah menghabiskan segelas air, ia meminta lagi. Aku pun kembali masuk kedalam ruang guru untuk mengambil segelas air minum lagi, lalu memberikannya kepada lelaki itu.
Sampai disini aku menawarinya bantuan untuk mengantarkannya ke kantor polisi.
“Ya udah, kalo sudah aku antar kamu ke Polres sekarang,” ajakku.
“Kebelet. Kebelet eek aku,” lelaki itu justru mengalihkan pembicaraan dan mengeluh karena perutnya sakit.
“Ya udah, kuantar ke kamar mandi, habis itu aku sholat.”
Akhirnya aku pun antar dia ke kamar mandi di belakang musholla. Aku suruh dia mengikuti di belakangku. Sesampainya di depan kamar mandi aku menyuruhnya masuk.
“Sini, masuk sini!” suruhku sambil menunjuk ke dalam kamar mandi.
Dia pun masuk kamar mandi. Dan belum sempat pintu aku tutup dia sudah memelorotkan celananya, hingga aku terkejut, agak emosi, dan buru-buru menutup pintunya.
“Eh eh, seenaknya sendiri aja, belum ditutup udah mlorotin celana!” begitu aku menggerutu.
Sambil menunggu lelaki itu menyelesaikan hajatnya, aku dan teman-temanku melakukan sholat mahgrib dengan harapan setelah melakukan sholat berjamaah aku bisa lebih tenang untuk mengajak teman-temanku mengantar lelaki itu ke Polres.
Karena sehabis sholat dia belum muncul juga, aku meneruskan menonton Semifinal Piala AFF di kantor guru dengan nyaman. Sejenak aku melupakannya untuk menonton bola.
Setelah cukup lama, dia tiba-tiba muncul, masuk ke ruangan dengan menenteng celana dalamnya. Kaget juga rasanya melihat tingkah aneh lelaki itu. Tanpa wajah berdosa, melakukan hal-hal yang kekanak-kanakan. Setiap aku tegur, wajahnya tanpa ekspresi. Diam, pucat, dan pandangannya kabur.
“Eh yang enggak-enggak aja, CD ditenteng kayak githu,” tegurku.
Dia pun hanya diam mendengar teguranku. Aku cari kantong plastik di kantor guru, lalu aku berikan padanya sebuah kantong plastik bening. Walaupun tidak bisa menutupi CD-nya, tapi sudah cukup lumayan untuk membungkus barang pribadinya itu. Itu lebih baik daripada ditenteng.
“Ini pake kantong plastik! Namamu siapa sih?” tanyaku sambil memberikan kantong plastik.
“Lukman.”
“Lukman Al-Hakim?” tanyaku sambil bergurau.
“Iya!” tak kusangka ternyata dia mengiyakan gurauanku.
Namanya sama persis dengan salah satu orang yang diceritakan dalam Qur’an, yaitu Lukman Al-Hakim. Kukira dia hanya bercanda, tapi sekali lagi dari wajahnya tidak ada tanda-tanda orang yang sedang bercanda. Dingin, polos, pucat, tanpa ekspresi.
Kusuruh dia menunggu di luar. Aku dan teman-temanku pun berdiskusi soal pengantaran Lukman ke kantor Polisi. Teguh yang pertama kali kuajak, dan dia mau menemaniku ke kantor Polres untuk mengantar Lukman.
Selanjutnya kuajak Taka. Dari wajahnya, sepertinya dia tidak yakin dengan rencana ini. Dia seperti tidak mau menemaniku ke kantor Polisi. Taka pun sempat menolaknya.
“Hati-hati loh..! Nanti kalo kenapa-napa,” ujarnya penuh curiga terhadap kehadiran Lukman waktu itu.
Sebenarnya itulah alasan dua orang kuajak untuk mengantar Lukman. Karena aku takut terjadi apa-apa di jalan jika aku mengantar Lukman sendirian. Maksudku aku takut jika apa yang selama ini pernah aku lihat di tayangan-tayangan kriminal di TV akan terjadi. Misalnya ada modus perampokan atau penodongan kepada tukang ojek oleh penumpangnya. Ketika penumpang meminta tukang ojek mengantarkannya ke suatu tempat, di tengah jalan yang sepi penumpang akan menusuk atau meminta berhenti dan menodongkan pisau atau pistol kearah tukang ojek. Bayangkan jika hal itu terjadi padaku. Masih untung jika cuma ditodong. Bagaimana jika ditusuk. Tamatlah sudah.
Akhirnya dengan sedikit paksaan, Taka mau menemani aku dan Teguh ke Polres walaupun dari wajahnya dia masih belum yakin. Aku menyuruh Taka memboncengkan Teguh, dan aku yang memboncengkan Lukman. Mereka berdua akan mengendarai motor di belakangku. Jadi mereka berdua bisa mengawasi Lukman yang membonceng di belakangku. Sehingga jika ada niat jahat dari Lukman, pasti dia tidak akan berani melakukannya karena merasa diawasi. Begitu rencanaku untuk perlindungan diri.
Kami bertiga pun akhirnya keluar ruangan untuk mengantar Lukman Al-Hakim. Di depan pintu ruangan, kembali kami dikejutkan dengan tingkah childish Lukman. Dia kencing di tumpukan pasir depan kelas, dimana saat itu memang sedang dilakukan renovasi gedung sekolah, sehingga banyak tumpukan material di sana.
“Heh, Man Man, sini cepet Man. Kamu kencing kok disitu..!” kataku padanya.
Sekali lagi tanpa kata dan ekspresi, dia menghampiriku.
“Ayo, kamu bonceng aku! Kita ke Polisi!” ajakku.
Dengan hati-hati aku putar motorku. Dengan kedua kakiku aku tahan berat badannya ketika menaiki motor. Walaupun motorku tampaknya tak cukup kuat menahan berat badannya, tapi apa boleh buat. Untung saja jalan-jalan di kota sudah cukup baik, hanya beberapa bagian saja yang dibuat polisi tidur yang membuat laju motor menjadi tidak stabil, apalagi dengan muatan kendaraan yang sebesar itu.

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook