Nonton Bola Bareng Pak Polisi dan Orang Gila (Bag. 1)

Senin, Maret 19, 2012

22 Desember 2008 setelah puas melihat nilai rapor akhir semseter, aku dan salah seorang temanku Aji, pergi ke sebuah toko HP di Kota Solo untuk membeli HP baru. Singkat cerita setelah selesai melakukan tawar-menawar dengan penjual HP, kami bergegas pulang karena hari sudah mulai gelap.
Ketika aku dan Aji berdiri di depan toko sambil mengingat-ingat letak kendaraan yang kami parkir, kami menengok ke arah kiri toko tersebut, ke arah warung tenda yang saat itu menyetel televisi. Aku sudah menduga, penjaga warung tersebut pasti memilih channel televisi yang menyiarkan pertandingan leg ke-2 Semifinal Piala AFF antara Thailand VS Indonesi. Saat itu pertandingan dilaksanakan di Nakon Ratchasima Thailand. Pada tahun itu Indonesia hanya menjadi semifinalis karena kalah agregat 3-1 atas Thailand di akhir pertandingan.
Aku sempat menanyai salah seorang pengunjung warung untuk mengetahui skor terkini pertandingan, “Mas, skornya sekarang berapa ya Mas?”
“1-0”
“Yang unggul siapa? Indonesia?”
“Ya, Indonesia.”
“O , ya! Makasih Mas!”
Dengan semangat dan kegirangan karena mengetahui Indonesia ungul sementara atas Thailand setelah kalah 1-0 di Gelora Bung Karno, aku dan Aji segera pulang. Aji yang mengemudikan motor. Dia mengendarai motor lebih cepat daripada saat berangkat.
Kami berdua berniat untuk kembali ke sekolah karena aku memang sering mampir ke sekolah dan sering juga tidur di masjid sekolah dengan teman-temanku termasuk Aji. Dan beberapa menit kemudian kami pun memasuki gerbang sekolah yang dibuka hanya setengah itu. Lantas aku turun lebih dulu dari motor dan berlari menuju ruang guru, sementara Aji memarkir motor di samping musholla berjajar dengan speda-speda milik teman-temanku yang saat itu juga sedang mampir di musholla sekolahan. Tetapi saat itu mereka semua tidak ada di musholla, melainkan ada di ruang guru untuk menonton pertandingan semifinal leg ke-2 Piala AFF tentunya. Karenanya aku juga langsung bergegas menuju ruang guru dan Aji meingikhlaskan diri untuk memarkir kendaraannya.
Jadi ada kebiasaan buruk yang aku lakukan saat SMA, yaitu jika ada tayangan-tayangan bola semacam itu apalagi saat Timnas main aku dan beberapa temanku masuk ruang guru dengan melompat jendela karena kadang pintunya dikunci. Saat aku melompat jendela ruang guru, tiba-tiba seorang berbadan tambun setinggi 160-an cm berdiri di samping bangku beton di depan ruang guru. Wajahnya luar biasa seram dan pucat, mirip salah satu tokoh yang berbadan besar dalam Film Warkop “Manusia 6 Juta Dollar” yang menjadi musuh Dono dan kawan-kawan.
Dia membuatku terkaget-kaget, karena aku kira dia salah seorang guru yang sedang mampir ke sekolah. Sebenarnya yang membuatku kaget karena posisiku saat itu sedang naik ke jendela. Jadi jika ada guru yang tahu pasti rasanya tidak enak. Dan yang lebih membuat aku kaget ternyata pintu ruang guru tidak dikunci karena salah seorang temanku keluar dari dalam ruangan beberapa saat setelah aku naik jendela. Untungnya dia ternyata orang luar. Bukan guru atau tukang kebun yang kami kenal. Lantas aku turun dari jendela untuk menghampiri lelaki itu.
Aku tidak tahu pasti apa kata-kata pertama yang dia ucapkan saat itu. Dan karena baru kenal, aku berbicara dengan bahasa Jawa Krama yaitu bahasa Jawa halus tingkat ke-2. Bahasa ini biasanya digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tua atau orang yang baru dikenal.
“Ada apa Pak?” tanyaku pada lelaki itu.
Tetapi aku tidak mengerti dengan jelas jawaban pertama lelaki itu atas pertanyaan pertamaku. Setelah mendengar kalimat kedua, ketiga, hingga beberapa kalimat barulah aku mengerti ternyata dia berbicara menggunakan Bahasa Ngapak-ngapak ala Tegal, Purwokerto, dan sekitarnya. Mirip gaya bicara penjaga warteg. Akhirnya aku lebih berkonsentrasi mendengar kata demi kata yang diucapkannya agar mengerti dengan jelas apa yang dia ingin sampaikan sebenarnya.
“Aku lapar.”
“Kenapa Pak?”
“Aku lapar. Dari pagi belum makan.”
“Lha, bagaimana Pak. Saya disini juga cuma ngekos, ga punya duit.”
“Minta makanan kalo ada?”
“Makanan juga ga ada Pak.”
Sampai percakapan ini aku menyadari ternyata lelaki itu tidak setua yang aku bayangkan sebelumnya. Sejenak aku berhenti dari percakapan itu untuk beberapa detik. Setelah beberapa detik aku memikirkan percakapan kami berdua tadi, muncul beberapa kesimpulan-kesimpulan di kepalaku. Tampaknya dia masih cukup muda, aku kira dia baru berumur belasan tahun seperti usiaku saat itu. Jadi setelah itu aku bercakap-cakap dengannya menggunakan bahasa ngoko, yaitu bahasa keseharian dalam tingkatan bahasa Jawa yang biasa digunakan untuk berbicara dengan teman sebaya atau biasa juga digunakan oleh atasan untuk berbicara dengan bawahan atau orang tua pada anaknya.
Tetapi saat itu dalam kepalaku juga muncul pertanyaan-pertanyaan atas kedatangan aktor Film Warkop ini. Mengapa ada orang dengan wajah pucat seperti ini bisa ada di sekolahku. Padahal saat itu hari sudah gelap.
“Kamu kesini ada urusan apa?”
“Aku kelaparan, seharian ga makan.”
“Asalmu dari mana?”
“Tegal.”
“Tegal?”
“Iya.”
“Mau ada apa jauh-jauh dari Tegal kesini?”
“Aku nyari Bapakku. Bapakku pergi dari Tegal.”
“Sekarang kamu tahu tidak Bapakmu dimana?”
“Bapakku sudah di Tegal.”
“Kamu mau menyusul balik ke Tegal?”
“Iya tapi aku sekarang lapar, mau makan dulu, ga punya duit.”

You Might Also Like

0 komentar

Daftar Bacaan

Like us on Facebook