Menikah Karena Sebuah Mimpi

Jumat, Maret 16, 2012

Ketika seseorang mendapatkan suatu hal yang ia cita-citakan melalui perjuangan yang ia tempuh, seringkali ia berujar, “Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan.” Seseorang yang bercita-cita memiliki sebuah perusahaan besar kemudian hal itu tercapai, seseorang yang lulus kuliah menjadi sarjana, atau seseorang yang berhasil terkenal karena karya-karya yang ia ciptakan seringkali memulai cita-citanya itu dari sebuah mimpi atau harapan yang ia perjuangkan secara sungguh-sungguh. Dalam hal ini mimpi dikonotasikan sebagai sebuah harapan besar.
Tetapi ada juga orang-orang yang mengalami mimpi dalam tidur, lalu ia terbangun dan beberapa waktu setelah itu mimpinya benar-benar terwujud. Hal ini terjadi pada orangtuaku. Yaitu ibuku. Marfu’ah namanya. Ia kini bekerja sebagai seorang pengajar di sebuah SMP di pinggiran Kota Karanganyar. Ia pernah mengalami sebuah mimpi yang pasti tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hayatnya. Mimpi yang mengawali lahirnya sebuah keluarga kecil dimana aku menjadi bagiannya.
Suatu hari salah seorang tetangga kami, Mbah Hardi namanya, datang untuk membicarakan beberapa hal kepada bapakku. Bapak dan Ibuku menyambutnya di ruang tamu. Mereka bertiga duduk dan membicarakan beberapa hal. Saat itu aku lupa apa saja yang mereka bicarakan. Tetapi ada satu pembicaraan yang kuingat sampai saat ini. Setelah semua hal yang Mbah Hardi ingin smpaikan saat itu usai, tiba-tiba ia menanyai ibuku tentang pertemuan Ibu dan Bapakku hingga mereka berdua menikah. Ibuku mengatakan bahwa pertemuan mereka berdua diawali dari sebuah mimpi. Aku pun turut mendengar cerita ibuku di ruang tamu saat itu. Dengan seksama aku mendengar cerita yang baru aku tahu itu. Sejak aku kecil ibu gemar menceritakan kepada kami anak-anaknya mengenai kehidupannya sewaktu masih kecil dimana ia tinggal pada sebuah keluarga miskin bersama kakek dan nenekku. Ia sering menceritakan saat-saat suka maupun duka yang ia alami hingga akhirnya ia berhasil menjadi sarjana dan sekarang telah menjalinikatan pernikahan dengan bapakku. Tetapi cerita mengenai pertemuan mereka berdua sebelum menikah benar-benar baru aku dengar saat itu.
Ibuku mengatakan bahwa suatu hari ia bermimpi didatangi oleh almarhumah nenekku, Siti Aisah yang telah wafat beberapa tahun sebelum Ibuku menikah. Dalam mimpi itu, almarhumah datang dan menyampaikan pada ibuku bahwa ada seorang lelaki yang hendak melamar Marfu’ah muda. Ibuku menceritakan bahwa dalam mimpi itu ia menerima pinangan lelaki itu.
Pada keesokan harinya, beberapa saat setelah terbangun dari tidur, buah tidur ibuku benar-benar menjadi kenyataan. Pada hari itu datanglah seorang lelaki berusia 30-an tahun ke rumah ibuku di sebuah kampung bernama Kampung Sewu di daerah pinggiran Sungai Bengawan Solo untuk menyampaikan pinangan kepada ibuku. Ibuku menuturkan bahwa bapakku, Suradi, adalah seorang lelaki yang datang dalam dalam mimpinya bersama almarhumah nenekku Siti Aisah malam sebelum peminangan itu. Karena kesamaan dengan mimpi itulah yang membuat Marfu’ah muda menerima pinangan Suradi muda.
Mereka berdua pun akhirnya menikah pada tanggal 6 Mei 1990. Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang anak perempuan yaitu kakakku, Yusi Fibriyanti dan 15 bulan setelahnya lahirlah aku. Hingga saat ini kami adalah empat bersaudara dengan lahirnya adikku Yusuf Rifa’i pada tahun 1999 dan Arkan Dani Aden pada tahun 2007.
Inilah keluarga kami. Keluarga yang berawal dari sebuah pernikahan diawal tahun 1990-an. Dimana pernikahan itu diawali oleh sebuah mimpi, yang pada akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan.

You Might Also Like

0 komentar