Harimau Masuk Desa Kami

Sabtu, Maret 31, 2012

Salah satu orang tua yang paling rajin datang ke masjid untuk sholat jamaah di desa kami adalah Mbah Narto. Ia dan istrinya sering datang berdua ke Masjid lebih dulu dari yang lainnya. Bahkan mereka sering kali sudah datang di masjid untuk membersihkan debu-debu dan kotoran di masjid padahal waktu sholat baru akan tiba 30 menit kemudian. Ketika hari masih gelap dan semua warga masih tertidur lelap, Mbah Narto sudah tiba di masjid bersama istrinya.
Suatu hari ada kejadian yang menggegerkan warga desa yang dialami oleh Mbah Narto dan istrinya kala mereka hendak menjalankan aktivitas sholat subuh. Mbah Narto mengaku melihat seekor harimau yang melintas di depan masjid. Karena merasa ketakutan Mbah Narto dan istrinya masuk ke dalam masjid dan dengan nalurinya ia mengumandangkan adzan padahal saat itu waktu sholat Subuh belum mulai. Beberapa warga meyakini bahwa harimau yang dilihat oleh Mbah Narto itu adalah harimau ‘jadi-jadian’.
Beberapa saat setelah ia mulai mengumandangkan adzan, Mbah Narto mendengar suara ledakan yang sangat keras dari atas masjid. Mbah Narto kemudian meneruskan adzan yang ia kumandangkan hingga usai.
Keesokan harinya setelah kabar ini menyebar, dari beberapa warga yang saat kejadian tersebut berlangsung juga telah terbangun, tidak semuanya mendengar suara ledakan itu. Pak Harno yang bertempat tinggal tepat di depan masjid mengaku tidak mendengar suara ledakan itu. Begitu juga dengan Pak Wiyono yang saat kejadian berlangsung justru sedang asyik mendengar musik dari VCD player di rumahnya. Sementara Pak Sukadi yang bertempat tinggal sekitar 50 meter dari masjid mengaku mendengar suara ledakan itu. Anehnya ia merasa ledakan itu bukan berasal dari masjid. Ia mengira bahwa ledakan terjadi tepat di depan rumahnya.
Aku masih berusia sekitar 8 tahun ketika kejadian ini. Saat itu aku begitu penasaran dengan kejadian yang menggegerkan seisi warga desa itu. Setiap ibu atau bapakku membicarakan kejadian ini dengan tetangga kami, aku selalu mendekat dan menyimak pembicaraan mereka. Kejadian-kejadian seperti ini tampaknya memang sangat menarik perhatian banyak orang untuk menyimaknya termasuk aku. Dari pembicaraan-pembicaraan inilah aku dapat mengetahui runtutan cerita yang dialami oleh Mbah Narto dan istrinya.
Beberapa hari kemudian ketika aku bangun pagi, aku mendengar suara keramaian di samping rumah. Aku pun dengan cepat merespon suara itu dengan keluar rumah untuk melihat apa gerangan yang terjadi sebenarnya. Di samping rumah telah banyak warga yang berkerumun termasuk kedua orangtuaku.
Ternyata di atas tanah yang masih becek di samping rumahku itu terdapat beberapa jejak kaki hewan seperti jejak kaki harimau. Entah jejak kaki apa yang membekas di tanah samping rumahku itu. Yang jelas tidak mungkin rasanya jika jejak kaki itu adalah jejak kaki anjing atau hewan-hewan lain yang lazim melintas di tengah-tengah pemukiman manusia. Jejak kaki yang membekas di tanah itu lebih besar dari jejak kaki anjing, kurang lebih sebesar kepalan tangan orang dewasa.
Tidak hanya jejak-jejak kaki yang mirip dengan jejak kaki harimau saja yang menjadi perbincangan di samping rumahku saat itu itu. Tetapi juga patahnya pipa saluran air yang ada di dekat jejak-jejak itu. Jika benar jejak-jejak kaki itu adalah jejak harimau, mungkin pipa itu patah karena terinjak oleh harimau. Kami tidak bisa menelusuri seberapa jauh jejak kaki itu melintas karena jejak-jejak itu terputus oleh jalan aspal tepat di depan rumahku. Setelah kejadian itu seingatku tidak ada laporan warga kepada pihak kepolisian atau ke instansi terkait untuk menelusuri lebih lanjut mengenai bukti-bukti keberadaan harimau di desa kami. Warga pun beraktivitas seperti biasa.
Satu hari kemudian, kejadian itu terulang lagi. Jejak-jejak kaki mirip harimau kembali membekas di atas tanah di samping rumahku. Atas kejadian itu, seorang warga berinisiatif untuk begadang sampai larut malam agar dapat melihat secara langsung makhluk apa sebenarnya yang melintas di samping rumahku itu. Tetapi ternyata itulah bukti terakhir kehadiran harimau di desa kami. Kami tidak tahu apakah jejak-jejak kaki itu adalah benar jejak kaki harimau padahal Harimau Jawa sudah dinyatakan punah? Dan jika benar itu adalah jejak kaki harimau apakah harimau itu adalah harimau yang sama yang dilihat oleh Mbah Narto? Atau apakah harimau yang dilihat Mbah Narto di depan masjid kala itu adalah jelmaan dari jin? Pertanyaan-pertanyaan itu sepertinya tidak akan pernah terjawab.
Mbah Narto pun sekarang telah wafat. Terakhir kali aku bertemu dengan Mbah Narto, suaranya sudah sangat lirih hingga aku pun tidak dapat mengerti kata-kata yang ia ucapkan. Satu-satunya saksi mata yang masih hidup  yang melihat harimau di depan masjid bersama Mbah Narto adalah istrinya sendiri.
Letak geografis desa kami yang berada di kaki Gunung Lawu memang memungkinkan adanya hewan-hewan dari gunung yang masuk ke desa kami. Bahkan salah seorang warga desa lain pernah menangkap seekor lutung yang masuk ke pemukiman penduduk. Hewan itu mungkin terdesak dari habitatnya karena saat itu terjadi kebakaran hutan di beberapa titik di Gunung Lawu. 

You Might Also Like

0 komentar